ABSTRAK
Putus sekolah bukan merupakan salah satu permasalahan pendidikan yang tak
pernah berakhir. Masalah ini telah berakar dan sulit untuk dipecahkan
penyebabnya, tidak hanya karena kondisi ekonomi, tetapi ada juga yang
disebabkan oleh kekacauan dalam keluarga, dan lain-lain. Hal ini juga dialami oleh
beberapa anak di Desa Kancu’u Kecamatan Pamona Timur
Kabupaten Poso. Oleh karena
itu penulis ingin mengetahui dan meneliti lebih jauh tentang sebab-sebab anak
putus sekolah. Pembahasan ini berjudul “Anak Putus Sekolah dan Cara
Pembinaannya di Desa Kancu’u”.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah apa yang menyebabkan anak-anak putus
sekolah di Desa Kancu’u. Bagaimana
orang tua, masyarakat dalam mengatasi terjadinya anak putus sekolah serta
bagaimana cara pembinaannya. Tujuan pembahasan ini adalah menemukan jawaban
dari permasalahan di atas yaitu untuk mengetahui berapa banyak anak putus
sekolah di Desa Kancu’u, faktor-faktor
apa saja yang menyebabkan anak putus sekolah, sikap orang tua, serta bagaimana
cara pembinaan terhadap anak yang putus sekolah. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode lapangan dan kepustakaan. Metode lapangan
dilakukan dengan tiga teknik pengumpulan data yaitu observasi, angket dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor penyebab anak putus
sekolah di Desa Kancu’u.
Secara umum masalah utamanya adalah kondisi ekonomi keluarga yang kurang
mendukung. Sebagian lagi adalah faktor keluarga yang menyebabkan anak-anak di Desa
Kancu’u putus sekolah. Adapun orang
tua dan masyarakat dalam menghadapi anak putus sekolah ada dua yaitu upaya
pencegahan dan upaya pembinaan. Upaya pencegahan dilakukan sebelum putus
sekolah dengan mengamati, memperhatikan permasalahan-permasalahan anak-anak dan
dengan menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan demi menjamin masa
depan anak serta memberikan motivasi belajar kepada anak. Adapun upaya pembinaan
yang dilakukan adalah dengan mengajarkan nilai-nilai keagamaan dan sosial
kemasyarakatan kepada anak, serta memberikan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuannya supaya anak disibukkan serta dapat menghindarinya dari pikiran
yang menyimpang.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak
merupakan Anugerah dari Tuhan, seorang anak dilahirkan dalam keadaan tanpa noda dan dosa, laksana
sehelai kain putih yang belum mempunyai motif dan warna. Oleh karena itu, orang
tualah yang akan memberikan warna terhadap kain putih tersebut; hitam, biru
hijau bahkan bercampur banyak warna.
Setiap orang tua menginginkan
anak-anaknya cerdas, berwawasan luas dan bertingkah laku baik, berkata sopan
dan kelak suatu hari anak-anak mereka bernasib lebih baik dari mereka baik dari
aspek kedewasaan pikiran maupun kondisi ekonomi. Oleh karena itu, di setiap
benak para orang tua bercita-cita menyekolahkan anak-anak mereka supaya
berpikir lebih baik, bertingkah laku sesuai dengan agama serta yang paling
utama sekolah dapat mengantarkan anak-anak mereka ke pintu gerbang kesuksesan
sesuai dengan profesinya.[1]
Setelah keluarga, lingkungan kedua bagi anak adalah
sekolah. Di sekolah, guru merupakan penanggung jawab pertama terhadap
pendidikan anak sekaligus sebagai suri teladan. Sikap maupun tingkah laku guru
sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi anak.
Pada perspektif lain, kondisi
ekonomi masyarakat tentu saja berbeda, tidak semua keluarga memiliki kemampuan
ekonomi yang memadai dan mampu memenuhi segala kebutuhan anggota keluarga.
Salah satu pengaruh yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi seperti ini adalah
orang tua tidak sanggup menyekolahkan anaknya pada jenjang yang lebih tinggi
walaupun mereka mampu membiayainya di tingkat sekolah dasar. Jelas bahwa
kondisi ekonomi keluarga merupakan faktor pendukung yang paling besar
kelanjutan pendidikan anak-anak., sebab pendidikan juga membutuhkan dana besar.
Hampir di setiap tempat banyak
anak-anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, atau pendidikan putus di
tengah jalan disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan. Kondisi
ekonomi seperti ini menjadi penghambat bagi seseorang untuk memenuhi
keinginannya dalam melanjutkan pendidikan. Sementara kondisi ekonomi seperti
ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya orang tua tidak mempunyai
pekerjaan tetap, tidak mempunyai keterampilan khusus, keterbatasan kemampuan
dan faktor lainnya.
Putus sekolah bukan merupakan persoalan
baru dalam sejarah pendidikan. Persoalan ini telah berakar dan sulit untuk di
pecahkan, sebab ketika membicarakan solusi maka tidak ada pilihan lain kecuali
memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Ketika membicarakan peningkatan ekonomi
keluarga terkait bagaimana meningkatkan sumber daya manusianya. Sementara semua
solusi yang diinginkan tidak akan lepas dari kondisi ekonomi nasional secara
menyeluruh, sehingga kebijakan pemerintah berperan penting dalam mengatasi
segala permasalahan termasuk perbaikan kondisi masyarakat.[2]
Menurut pengamatan sementara,
sebagian anak-anak di Kecamatan Jangka mengalami putus sekolah terutama
anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di tingkat atas. Maka hal yang
menjadi rumusan masalah di sini adalah sebagai berikut:
1. Berapa banyak anak putus sekolah di Desa
Kancu’u?
2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan
terjadinya anak putus sekolah di Desa Kancu’u?
3. Bagaimana sikap orang tua terhadap
pendidikan anaknya?
4. Bagaimana cara pembinaan orang tua
terhadap anak putus sekolah di Desa Kancu’u?
5. Bagaimanakah cara masyarakat menanggulangi
anak putus sekolah di Desa Kancu’u?
Berdasarkan latar belakang dan
rumusan masalah tersebut di atas maka timbullah keinginan penulis untuk
mengangkat permasalahan ini dalam sebuah karangan ilmiah (skripsi)dengan
menetapkan sebagai judul adalah: “Anak Putus Sekolah dan Cara pembinaannya
di Desa Kancu’u Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso”.
B. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kekeliruan
dan lebih mengarahkan pembaca dalam memahami judul skripsi ini penulis merasa
perlu untuk menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul tersebut.
Adapun istilah- istilah yang perlu di jelaskan adalah sebagai berikut:
1. Anak
Artinya orang atau binatang
yang baru di teteskan. Anak adalah turunan kedua sesudah orang yang dilahirkan.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa anak adalah manusia yang hidup
setelah orang yang melahirkannya, anak itu merupakan rahmat Allah kepada
manusia yang akan meneruskan cita-cita orang tuanya dan sebagai estafet untuk
masa yang akan datang.[3]
Adapun anak yang penulis
maksudkan dalam skripsi ini adalah anak sebagai keturunan kedua dari sepasang
suami istri yang terikat dengan tali pernikahan yang sah yang tidak terlepas
dari didikan orang tua baik didikan agama maupun pendidikan umum sehingga anak
bisa bersaing dan tercapai cita-citanya.
2. Anak Putus
Sekolah
Putus sekolah (dalam bahasa Inggris
dikenal dengan Putus sekolah) adalah proses berhentinya siswa secara
terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Anak Putus sekolah
yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah terlantarnya anak dari sebuah
lembaga pendidikan formal, yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya
kondisi ekonomi keluarga yang tidak memadai.
3. Cara Pembinaannya
Cara: 1). Aturan sistem. 2).
Gaya, laku, ragam. 3). Adat, resam, kebiasaan. Pembinaan merupakan suatu proses
kegiatan yang di lakukan secara berdaya guna memperoleh hasil yang baik.[4]
Adapun pembinaan yang dimaksud
dalam pembahasan ini adalah suatu usaha untuk pembinaan kepribadian yang
mandiri dan sempurna serta dapat bertanggungjawab, atau suatu usaha, pengaruh,
perlindungan dalam bantuan yang di berikan kepada anak yang tertuju kepada
kedewasaan anak itu, atau lebih cepat untuk membantu anak agar cakap dalam
melaksanakan tugas hidup sendiri, pengaruh itu datangnya dari orang dewasa
(diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku pintar hidup sehari-hari,
bimbingan dan nasehat yang memotivasinya agar giat belajar), serta di tujukan
kepada orang yang belum dewasa.
Menurut Yurudik Yahya,
pembinaan adalah “suatu bimbingan atau arahan yang dilakukan secara sadar dari
orang dewasa kepada anak yang perlu dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki
kepribadian yang utuh dan matang kepribadian yang dimaksud mencapai aspek
cipta, rasa dan karsa.[5]
Istilah pembinaan atau berarti
“ pendidikan” yang merupakan pertolongan yang diberikan dengan sengaja
oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa. Selanjutnya pembinaan atau
kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat kehidupan yang
lebih tinggi dalam arti mental.
Dari penjelasan di atas dapat
penulis simpulkan bahwa pembinaan merupakan suatu proses yang di lakukan untuk
merubah tingkah laku individu serta membentuk kepribadiannya, sehingga apa yang
di cita-citakan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak
penulis capai dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui berapa banyak anak putus
sekolah di Desa Kancu’u.
2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan anak
putus sekolah.
3. Bagaimana sikap orang tua terhadap anak
putus sekolah?
4. Bagaimana usaha masyarakat dalam
menanggulangi anak putus sekolah di Desa Kancu’u.
D. Postulat dan Hipotesis
Bertitik tolak pada latar belakang masalah di atas, maka
penulis perlu mengemukakan beberapa postulat yang kedudukannya sebagai dasar
pemikiran dalam suatu wilayah. Winarno Surachman mengemukakan bahwa: “ Anggapan
dasar (postulat) yang menjadi tumpuan dasar segala pandangan dan kegiatan
terhadap masalah yang dihadapi dalam suatu penelitian. Postulat ini menjadi
titik pangkal, di mana dengan adanya postulat ini tidak lagi menjadi
keragu-raguan penyelidik”.[6]
Adapun postulat (anggapan
dasar) dalam masalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Anak-anak
wajib memperoleh pendidikan, terutama pada usia 9 (sembilan) sampai 15 (lima belas) tahun, karena sesuai
dengan peraturan pemerintah.
2.
Tanggung
jawab pendidikan anak berada pada tangan orang tua, guru dan masyarakat.
Berdasarkan anggapan dasar di
atas, maka yang menjadi hipotesis (dugaan sementara) adalah sebagai berikut:
1. Kebanyakan anak putus sekolah di Desa
Kancu’u disebabkan oleh kurangnya
biaya dan kesadaran orang tua dalam menyekolahkan anaknya.
2. Anak putus sekolah di Desa Kancu’u berdampak negatif dalam masyarakat.
3. Cara pembinaan terhadap anak putus sekolah
di Desa Kancu’u belum
optimal.
E. Populasi dan Sampel
Populasi adalah “Keseluruhan
objek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat
mewakili keseluruhan populasi yang ada”.[7]
Adapun yang menjadi populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang ada di Desa Kancu’u yang berjumlah …..Kepala
Keluarga dengan jumlah
penduduknya….. jiwa, yang tingkat putus sekolahnya diambil
mulai dari Sekolah Dasar dan Menegah. Berdasarkan populasi di atas maka yang
dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah Desa Kancu’u yang terdapat dalam Kecamatan Pamona
Timur yang mempunyai anak putus
sekolah. Sampel yang penulis ambil di sini adalah masing-masing 2 orang yaitu
kepalah desa dan Kepala Adat.
Sampel ini dianggap dapat mewakili seluruh populasi dan dapat memberikan data
yang penulis perlukan. Desa
tersebut menurut pengamatan penulis adalah desa yang banyak terdapat anak putus
sekolah.
F. Metodelogi Penelitian
Setiap penelitian memerlukan
metode dan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan masalah yang dihadapi. Metode
penelitian yang dapat dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif yaitu “suatu metode yang ingin mengungkapkan, mengembangkan dan
menafsirkan data, peristiwa, kejadian-kejadian dan gejala-gejala
fenomena-fenomena yang terjadi pada saat sekarang”.[8]
Metodologi penelitian ini
sangat tepat digunakan untuk memperoleh data dan informasi yang objektif. Dalam
pelaksanaannya penulis menggunakan dua jenis penelitian, adalah sebagai
berikut:
1. Library Research (studi kepustakaan), digunakan untuk melihat dan
mempelajari buku-buku, literatur-literatur dan bahan referensi lainnya sebagai
sumber untuk menguraikan landasan teoritis dari skripsi ini.
2. Field Research (studi lapangan), digunakan untuk mencari dan
mengumpulkan data dari lapangan. Yang dalam pelaksanaannya digunakan3 (tiga)
instrumen penelitian, yaitu:
a. Observasi
Yaitu cara
yang ditempuh untuk mengamati kondisi lapangan penelitian, yaitu pengamatan
langsung maupun tidak langsung yang ditemui di daerah penelitian.
b. Wawancara
Wawancara
yaitu cara yang ditempuh untuk mewawancarai para informan demi memperoleh
data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. Wawancara ditujukan dengan
jalan mengajukan pertanyaan langsung kepada tokoh pimpinan dengan pertanyaan
yang telah di persiapkan.
c. Angket
Angket merupakan
beberapa pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan masalah penelitian yang telah di
persiapkan kepada masing-masing responden, yaitu masyarakat tiap desa yaitu 3 desa
yang terdapat dalam Kecamatan Jangka yang mempunyai anak putus sekolah untuk
memberikan jawabannya.
Adapun teknik penulisan
skripsi ini penulis berpedoman pada buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Fakultas
…………………………Universitas Kristen Tentena”. Dan buku-buku lain yang dianggap penting.
[3] WJS Pooerwadarminta, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, cet. II (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), hal. 226
[4] Yang Kassin, Kamus Bahasa Malaysia Baru,
tahun 1996, hal. 83
[5] Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hal. 866
[6] Winarno Surachman, Dasar dan Tehnik Research
Pengantar Metodelogi Ilmiyah ,(Bandung: Tarsito, 1982), hal. 38
[7] Sutrisno hadi, Metodelogi Research,
Jilid I, cet V (Yogyakarta: UGM, 1996), hal. 56
[8] Kartini Kartono, Pengantar Metodelogi
Research Sosial (Bandung: Grafika, 1974), hal. 116
BAB II
PENDIDIKAN BAGI ANAK
A. Pentingnya Pendidikan Bagi Anak
Dalam Kristen kebutuhan seseorang terhadap pendidikan
bukanlah hanya sekedar mengembangkan aspek individual dan sosial yang bersifat
mementingkan pertumbuhan dan perkembangan secara fisik saja, akan tetapi juga
untuk mengarahkan naluri agama yang telah
ada dalam setiap diri anak, karena pada dasarnya setiap jiwa manusia itu
telah disirami dengan nilai-nilai agama Islam. Naluri agama yang dimiliki oleh
manusia untuk melangsungkan kehidupannya di dunia ini merupakan suatu pedoman
yang harus di tanamkan kepada anak sejak dini, sehingga proses pendidikan
adalah untuk mengembangkan potensi agama tersebut ke arah yang sebenarnya.[1]
Pertumbuhan dan perkembangan
jiwa anak tidak mungkin tumbuh dan berkembang baik tanpa adanya latihan dan
bimbingan yang bersifat mendidik. Pendidikan tersebut menyangkut dengan
pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani anak. Pendidikan secara umum
dimulai pada usia 9 (sembilan) sampai dengan 15 (lima belas) tahun.
Sudirman, N. mengatakan bahwa:
Belajar adalah pendidikan bagi seseorang.
Pendidikan sendiri adalah terjemahan dari bahasa Yunani paedagogie asal
katanya adalah pais yang artinya anak dan again yang
terjemahannya membimbing, dengan demikian paedagogie berarti bimbingan
yang diberikan pada anak. Dalam perkembangan selanjutnya pendidikan berarti
usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi seseorang
atau kelompok lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan
penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.[2]
Sudah jelas bahwa arti
pendidikan itu adalah proses pendewasaan seseorang yang dilakukan oleh orang
dewasa terhadap anak didiknya melalui proses pendidikan baik formal maupun non
formal.
Pendapat lain menerangkan
bahwa pendidikan itu adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam
kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan serta kehidupan di alam
sekitarnya.[3]
Dalam hal ini anak-anak dididik
cara bergaul dengan masyarakat dan lingkungannya. Sehingga anak akan mampu
mengemban tanggung jawab kepemimpinan masa depan yang sukses. Kalau pendidikan
anak diperhatikan dengan benar, maka dapat diharapkan di kemudian hari akan
muncul generasi baru yang berkualitas, sehat fisik dan akalnya, sempurna
akhlaknya serta mampu melaksanakan dan mengemban cita-cita orang tua dan bangsa
secara bertanggung jawab.
Anak ketika pertama dilahirkan
ke permukaan bumi ini dalam keadaan lemah dan bodoh, tidak tahu apa-apa
sehingga memerlukan kepada bantuan orang lain untuk mendidiknya hal ini sebagaimana
firman Allah
Ayat di atas menyatakan bahwa
manusia dilahirkan ke bumi ini dalam keadaan lemah dan tidak mengetahui
apa-apa. Kelemahan manusia itu harus dikembangkan melalui proses pendidikan
secara kontinu mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa bahkan sampai manusia
itu meninggalkan dunia fana ini.
Bantuan dan pendidikan yang
diberikan oleh orang tua kepada anak-anak adalah untuk mengembangkan potensinya
menjadi manusia dewasa yang dapat mengemban tanggung jawab yang dibebankan
kepadanya. Dari itu bagaimanapun terbelakangnya peradaban suatu masyarakat
tersebut pasti berlangsung suatu proses pendidikan. Tapi maju mundurnya tingkat
pendidikan itu berbeda-beda menurut perkembangan peradaban suatu masyarakat.
Pendidikan itu sudah ada
semenjak manusia itu ada, karena pada hakikatnya pendidikan merupakan usaha
manusia untuk mengembangkan potensi dalam dirinya. Setiap individu akan berbeda
tingkat perkembangan potensinya, sejauh mana ia memahami perbedaan dalam
hidupnya, dari tidak bisa berjalan menjadi bisa berjalan, dari kecil menjadi
besar dan dari sukar menjadi mudah. Sehingga kekuatan potensinya akan
mempengaruhi pada seluruh aspek kehidupannya.
Pendapat di atas menyatakan
bahwa, pendidikan dimulai dari yang sederhana, yaitu pendidikan yang diberikan
kepada anak harus disesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Pendidikan
ditujukan bukan hanya pada pembinaan keterampilan, melainkan kepada
pengembangan kemampuan-kemampuan teoretis dan praktis berdasarkan konsep-konsep
berpikir ilmiah. Kemampuan konsepsional demikian berpusat pada pengembangan
kecerdasan manusia itu sendiri. Oleh karena itu faktor daya pikir manusia
menjadi penggerak terhadap daya-daya lainnya untuk menciptakan peradaban dan
kebudayaan yang semakin maju.
Pendidikan adalah suatu hal yang
amat esensial dalam perkembangan anak-anak dalam menuju kedewasaannya.
Pendidikan yang utama pada dasarnya adalah penanaman nilai-nilai akhlak yang
terpuji ke dalam jiwa anak sejak kecil hingga menjadi dewasa, sehingga dalam
menghadapi kehidupannya di tengah masyarakat memiliki kemampuan dan
keterampilan serta berakhlak mulia.[4]
Pendidikan sangat menentukan
diri anak dalam perkembangannya menuju ke arah yang lebih baik. Apalagi di zaman
modern ini yang segala sesuatu dapat berubah dengan serba cepat adalah berkat
pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga dapat
menciptakan bermacam-macam alat yang canggih. Bahkan kecepatan alat itu dapat
mengalahkan kecepatan manusia itu sendiri. Pendidikan merupakan hal yang
penting dalam pertumbuhan individu anak. Pendidikan adalah semacam investmen
untuk menumbuhkan sumber-sumber manusia yang tidak kurang nilainya dari investmen
pada pertumbuhan sumber-sumber material.[5]
Dalam hal ini Hasan Langgulung
mengemukakan bahwa;
Di antara segi-segi pertumbuhan
dan persiapan yang mungkin adalah membuka dan mengembangkan serta memperkenalkan
kepada anak akan hak-hak yang diberikan oleh Tuhan sebagai individu di dalam
suatu masyarakat Islam. Anak juga harus disiapkan dengan sehat untuk menikmati
dan memperkenalkan dengan bijaksana akan hak-hak itu, memikul kewajiban, tanggung
jawab dengan penuh kemampuan, juga untuk mengadakan hubungan sosial yang
berhasil dan kehidupan ekonomi yang produktif.[6]
Dari kutipan di atas dapat
dipahami bahwa anak-anak dalam pertumbuhannya harus dipersiapkan dengan
sematang mungkin dengan pendidikan untuk mengembangkan dirinya sebagai seorang
muslim yang tidak hanya mementingkan hak saja melainkan juga mengetahui tentang
kewajibannya terhadap Tuhan.
Alkitab mengatakan akan pentingnya pendidikan bagi anak sebagai
salah satu tujuan pokok yang dituju oleh individu atau masyarakat untuk
membinanya. Begitu juga sebagai salah satu alat kemajuan dan ketinggian bagi
individu dan masyarakat, yang merupakan langkah pertama untuk membina keterampilan
dan sikap yang diinginkan pada diri anak ke arah yang lebih baik.[7]
Pendidikan secara langsung
merupakan dasar pembentukan kepribadian, kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan
teknologi, dan kemajuan kehidupan sosial pada umumnya. Ilmu pengetahuan telah
menjadi dasar perkembangan teknologi serta menjadi tulang punggung pembangunan
dan kehidupan modern dalam meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia.
Mengingat pentingnya
pendidikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mempunyai andil besar
dalam memberikan makna yang sangat tinggi kepada pembangunan bagi kesejahteraan
umat manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan, maka dirasa sangat dominan pentingnya
pendidikan bagi anak sebagai suatu usaha untuk memberikan bekal kepada anak
agar ia pada suatu ketika dalam hidupnya dapat berdiri dan dapat memikul
tanggung jawab atas segala perbuatannya.
M. Noor Syam mengemukakan
bahwa: Pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk membina kepribadian anak
sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan budaya.[8]
Berdasarkan pendapat di atas, pendidikan
adalah mengantarkan anak yang belum dewasa ke tingkat kedewasaannya. Sesudah
tingkat ini tercapai orang beranggapan bahwa usaha pendidikan yang menjadi
tugas orang tua dan guru akan berakhir. Kemudian anak yang sudah dewasa itu
dianggap mampu atas kekuatan sendiri tanpa bantuan orang lain dalam menghadapi
segala sesuatu dalam hidupnya. Dan atas dasar pendidikan yang telah
diperolehnya si anak berusaha sendiri mencari pemecahan untuk segala kesulitan
yang dijumpainya dalam perjalanan hidupnya.
Pendidikan mempunyai peranan
yang sangat berarti dalam kehidupan anak, karena dengan pendidikan anak dalam
kiprahnya di dunia ini dapat berbuat banyak. Melalui pendidikan pula anak
nantinya berhasil memecahkan segala persoalan yang ia hadapi, maka ia akan
memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru yang akan bermanfaat di dalam
perjalanan hidupnya.
Apalagi di zaman globalisasi
ini di mana munculnya berbagai gejala serta masalah yang menuntut berpikir
secara global. Di era globalisasi ini umat manusia dituntut menggantikan
pola-pola berpikir yang bersifat nasional semata-mata kepada pola-pola berpikir
yang bercakupan dunia, bermoral tinggi dan berakhlak mulia.[9]
Dengan demikian pentingnya
pendidikan bagi anak adalah suatu hal yang amat esensial dalam perkembangan
menuju kedewasaannya. Pendidikan yang utama pada dasarnya adalah penanaman
nilai-nilai akhlak yang terpuji ke dalam jiwa anak sejak kecil hingga menjadi
dewasa, sehingga dalam menghadapi kehidupannya di tengah masyarakat memiliki
kemampuan dan keterampilan serta berakhlak mulia.
Pendidikan formal dapat
mendidik kedisiplinan anak dan sangat berpengaruh dalam pendidikan anak itu
sendiri sehingga terjadi keselarasan antara pendidikan di dalam keluarga dengan
sekolah dalam hal menanamkan suatu kebiasaan-kebiasaan dan budi pekerti yang
baik.
B. Peranan Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak
Orang tua merupakan orang
pertama yang sangat besar peranannya dalam membina pendidikan anak, karena dari
pendidikan itu akan menentukan masa depan anak. Peran dan upaya orang tua
tersebut harus diperhatikan dengan baik sehingga kepribadian anak dapat tumbuh
dan berkembang dengan sempurna.
Pendapat di atas dengan jelas
menyatakan bahwa mempersiapkan dan mendidik anak sebagai elemen yang membentuk
keluarga, masyarakat dan bangsa. Anak merupakan unit inti yang akan membentuk
unsur pertama bagi kerangka umum pembangunan bangsa yang berkembang dan penuh
toleransi.Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa: “Hubungan orang tua dan anak
sangat mempengaruhi jiwa anak. Baik buruknya serta bertumbuh tidaknya mental
anak sangat tergantung sama orang tua”.[10]
Dengan demikian jelaslah bahwa
orang tua sangat berperan dalam perkembangan anak. Peranan orang tua sangat
besar dalam membina, mendidik serta membesarkan si anak hingga menjadi dewasa.
Orang tua merupakan orang pertama anak-anak belajar mendapatkan pendidikan,
otomatis apa yang didapatkan anak pertama sekali semasa kecilnya akan membekas
pada jiwa dan raganya di
kemudian hari.
Kalau melihat peranan orang
tua sebagai pendidik pertama bagi anak, maka tidak bisa dipisahkan dari peran
seorang ibu. Karena ibulah sebagai pendidik yang utama dalam keluarga. Sebab
sejak bayi dalam kandungan sampai bayi lahir menjadi balita dan menjadi
anak-anak hingga ia dewasa, ibulah yang paling dekat dan paling sering bersama
anak.
Dalam hal ini Jamaluddin
mengatakan:
Perkembangan bayi tak mungkin dapat berlangsung
secara normal tanpa adanya intervensi dari luar. Walaupun secara alami ia
memiliki potensi dari bawaan. Seandainya dalam pertumbuhan dan perkembangannya
hanya diharapkan menjadi normal sekalipun, maka ia masih memerlukan berbagai
persyaratan tertentu serta pemeliharaan yang berkesinambungan.[11]
Keterangan di atas menunjukkan
bahwa tanpa bimbingan dan pengawasan yang teratur, anak akan kehilangan
kemampuan untuk berkembang secara normal, walaupun ia memiliki potensi untuk
tumbuh dan berkembang dengan potensi-potensi lain. Yang dapat menciptakan
kebahagiaan bagi anak adalah orang tua yang merasa bahagia dan mampu memahami
anaknya dari segala aspek pertumbuhannya, baik jasmani maupun rohani dan sosial
dalam semua tingkat umur. Kemudian ia mampu memperlakukan dan mendidik anaknya
dengan cara yang akan membawa kepada kebahagiaan dan pertumbuhan yang sehat.
Orang tua memegang peranan
yang sangat penting dalam pendidikan dan bimbingan terhadap anak, karena hal
itu sangat menentukan perkembangan anak untuk mencapai keberhasilannya. Hal ini
juga sangat tergantung pada penerapan pendidikan khususnya agama, serta peranan
orang tua sebagai pembuka mata yang pertama bagi anak dalam rumah tangga. Dari
sinilah orang tua berkewajiban memberi
pendidikan dan pengajaran, terutama pendidikan agama kepada
anak-anaknya, guna membentuk sikap dan akhlak mulia, membina kesopanan dan
kepribadian yang tinggi pada mereka. Hal ini sejalan dengan kalimat yang
mengatakan bahwa baik buruknya anak
sangat tergantung pada sikap dari pada orang tuanya. Seandainya orang tua akan
dengki mendengki dalam praktek sehari-hari maka anak akan turut mempengaruhi,
demikian pula terhadap hal-hal yang lainnya. Anak yang dilahirkan ke muka bumi
ini dalam keadaan fitrah (kemampuan dasar) berupa potensi religius (nilai-nilai
agama). Kemampuan dasar ini pada dasarnya adalah setiap jiwa manusia itu telah
disirami dengan nilai-nilai alkitabiah. Naluri agama yang dimiliki oleh manusia untuk melangsungkan kehidupannya
di dunia ini merupakan suatu pedoman yang harus ditanamkan kepada anak-anak
sejak dini, sehingga proses pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi agama
tersebut ke arah yang sebenarnya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pada diri anak harus
ditanamkan nilai-nilai yang baik, karena anak sejak lahir telah membawa potensi
dan bakat, dan potensi yang ada pada diri anak tersebut harus diarahkan kepada
hal-hal yang baik.
Pendidikan berawal dari lingkungan keluarga, yaitu kedua orang tua kemudian
dilanjutkan dengan lingkungan masyarakat dan pendidikan formal (sekolah).
Ketiga sumber pendidikan (tri pusat pendidikan) tersebut harus merupakan satu
kesatuan yang saling berhubungan dan saling menunjang.
Di rumah orang tua dapat
mengajarkan dan menanamkan dasar-dasar keagamaan kepada anak-anaknya, termasuk
di dalamnya dasar-dasar bernegara, dan berperilaku baik serta berhubungan
sosial lainnya.[12]
Orang tua juga sangat berpengaruh dalam pendidikan agama.
Zakiah Daradjat mengatakan: “Anak-anak
sebelum dapat memahami sesuatu pengertian kata-kata yang abstrak seperti
benar dan salah, baik dan buruk, kecuali
pengalaman sehari-hari dari orang tua dan saudara-saudaranya”.[13]
Di sinilah letak peran orang tua terhadap pendidikan anak yaitu dengan
memberikan pemahaman dengan kata-kata, berbuat dan bertindak. Contoh
kehidupannya sehari-hari bercorak dari tindak tanduk orang tuanya. Selanjutnya
Ibnu Sina mengatakan bahwa: “Anak-anak harus dibiasakan dengan hal-hal terpuji
semenjak ia kecil”.[14] Contohnya adalah seperti
menyuruh anak untuk shalat, bersikap santun terhadap orang tua, bersikap sopan
terhadap orang lain dan berbuat baik terhadap sesama.
Pembinaan ini merupakan tanggung jawab sepenuhnya oleh orang tua, seperti
yang dikemukakan oleh Ibnu Sina di atas. Karena orang tua merupakan orang yang
pertama dikenal anak, maka hal ini adalah mutlak dan wajib dikerjakan, karena
merupakan perintah dari Allah.
Pendidikan dari lingkungan keluarga (prasekolah) merupakan pendidikan yang
pelaksanaannya dilakukan sejak lahir, misalnya mulai dengan mengazankannya,
mendidik dan memperlakukannya sesuai dengan ajaran agama Islam. Orang tua
sebagai kepala keluarga haruslah berusaha semaksimal mungkin menciptakan
situasi rumah tangga yang harmonis, melaksanakan ajaran agama dengan tekun dan
disiplin, menempatkan segala tindak tanduknya (gerak-geriknya) yang baik dalam
kehidupan sehari-hari, sesuai dengan ajaran dan petunjuk agama.[15]
Ayat di atas menunjukkan bahwa memberikan pendidikan kepada anggota
keluarga merupakan suatu kewajiban supaya terhindar dari siksaan api neraka.
Berarti dalam hal ini melindungi diri dari kehancuran, juga melindungi keluarga
dari kehancuran api neraka. Sebagaimana dibutuhkannya perlindungan hari
akhirat, maka lebih dibutuhkan perlindungan di masa kehidupan di dunia. Karena
yang kita tanamkan di masa hidup di dunia, akan dipetik hasilnya di akhirat
nanti.
Pendidikan yang di berikan
oleh orang tua bagi anak harus mencakup seluruh aspek kemanusiaan, baik segi
kejiwaan, fisik, intelektual dan sosial. Pendidikan tidak boleh hanya
menekankan pada satu segi saja dengan mengabaikan yang lain. Pendidikan prasekolah ini juga dasar dari pada terbentuknya watak dan perilaku
anak, yang dilakukan pada masa pendidikan sekolah nanti. Pendidikan sekolah
merupakan lanjutan pendidikan yang telah diterima anak di dalam lingkungan
keluarga, di mana pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang memberikan bekal
ilmu pengetahuan dan keterampilan serta pendidikan moral anak yang
pelaksanaannya selalu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pendidikan berarti
pengembangan potensi-potensi terpendam dan tersembunyi dalam diri anak. Anak
itu laksana lautan dalam yang penuh mutiara dan bermacam-macam ikan, tetapi
tidak tampak oleh pandangan mata. Ia masih berada di dasar laut, ia perlu
kepada orang yang ahli mengambilnya supaya mutiara itu bisa menjadi perhiasan
dan ikan menjadi makanan bagi manusia.
Hal ini juga pernah dinyatakan
oleh seorang filosof Jerman yaitu Schopenhouer, yang dikenal dengan teori Nativisme.
Teori ini menyatakan bahwa: “Bayi lahir dengan pembawaan baik atau pembawaan
buruk. Pembawaan yang bersifat kodrati dari kelahiran yang tidak dapat di rubah
oleh pengaruh alam sekitar atau pendidikan”.[16]
Dengan demikian tiap anak yang
lahir telah membawa bakatnya sendiri dari kandungan ibunya berupa potensi baik
atau buruk yang akan nampak pada kehidupan anak di masa yang akan datang yang
tidak dapat diubah. Anak mempunyai berbagai bakat dan kemampuan yang kalau pandai orang tua
menggunakannya, maka anak akan menjadi kebanggaan bagi orang tuanya, masyarakat
dan agama.
Hasan Langgulung mengemukakan
bahwa: “Pendidikan menurut pandangan individu adalah menggarap kekayaan yang
terdapat pada setiap individu agar dapat dinikmati oleh individu itu sendiri
dan oleh masyarakat serta mengantarkan anak menjadi mandiri”.[17]
Dalam hal ini Zahar Idris juga
mengemukakan sebagai berikut:
Pendidikan adalah serangkaian
kegiatan komunikasi yang bertujuan antara manusia dewasa dengan si anak didik
secara tatap muka atau dengan perkembangan media dalam rangka memberikan
bantuan terhadap mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, agar menjadi
manusia yang bertanggung jawab.[18]
Dengan demikian pendidikan
berusaha mengadakan perkembangan dan pertumbuhan ke seluruh aspek pribadi
individu agar anak-anak dapat berkomunikasi baik dan mempersiapkannya untuk
kehidupan yang mulia serta berhasil dalam suatu masyarakat.
Orang tua berkewajiban membimbing anak supaya terbinanya ketenangan dan
ketertiban dalam masyarakat.
. Di samping orang tua, masyarakat juga sangat berperan dalam membimbing
anak-anak serta mengarahkannya supaya menjauhi perbuatan yang mungkar, misalnya
dengan memberi contoh yang baik dalam kehidupan masyarakat.
Pendapat di atas dengan jelas
mengemukakan bahwa dalam mendidik anak, orang tua harus dapat mengetahui cara
berpikir anak dan tidak menyamakan cara berpikirnya anak dengan orang dewasa.
Maka dalam hal ini ada
beberapa langkah yang mungkin dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam
peranannya mendidik anak, antara lain adalah:
1. Orang Tua Sebagai Panutan
Anak selalu becermin dan
bersandar kepada lingkungannya yang terdekat. Dalam hal ini tentunya lingkungan
keluarga yaitu orang tua. Orang tua harus memberikan teladan yang baik dalam
segala aktivitasnya kepada anak.[19] Jadi orang tua adalah
sandaran utama anak dalam melakukan segala pekerjaan, kalau baik didikan yang
diberikan oleh orang tua, maka baik pula pembawaan anak tersebut.
2. Orang Tua Sebagai Motivator Anak
Anak mempunyai motivasi untuk
bergerak dan bertindak, apa bila ada sesuatu dorongan dari orang lain,
lebih-lebih dari orang tua. Hal ini sangat diperlukan terhadap anak yang masih
memerlukan dorongan. Motivasi bisa membentuk dorongan, pemberian penghargaan,
pemberian harapan atau hadiah yang wajar, dalam melakukan aktivitas yang
selanjutnya dapat memperoleh prestasi yang memuaskan.[20] Dalam hal ini orang tua
sebagai motivator anak harus memberikan dorongan dalam segala aktivitas anak, misalnya
dengan menjanjikan kepada anak akan hadiah apabila nanti dia berhasil dalam
ujian. Karena dengan motivasi yang diberikan oleh orang tua tersebut anak akan
lebih giat lagi dalam belajar.
3. Orang tua sebagai cermin utama anak.
Orang tua adalah orang yang sangat
dibutuhkan serta diharapkan oleh anak. Karena bagaimanapun mereka merupakan
orang yang pertama kali dijadikan sebagai figur dan teladan di rumah tangga.
Dan selain itu orang tua juga harus memiliki sifat keterbukaan terhadap
anak-anaknya, sehingga dapat terjalin hubungan yang akrab dan harmonis antara
orang tua dengan si anak, dan begitu juga sebaliknya. Sehingga nantinya dapat
diharapkan oleh anak sebagai tempat berdiskusi dalam berbagai masalah, baik
yang berkaitan dengan pendidikan, ataupun yang berkaitan dengan pribadinya.[21] Di sinilah peranan orang
tua dalam menentukan akhlak si anak. Kalau orang tua memberikan contoh yang
baik, maka anak pun akan mengambil contoh baik tersebut, dan sebaliknya.
4. Orang tua sebagai fasilitator anak[22]
Pendidikan bagi si anak akan
berhasil dan berjalan baik, apabila fasilitas cukup tersedia. Namun bukan
semata-mata berarti orang tua harus memaksakan dirinya untuk mencapai
tersedianya fasilitas tersebut. Akan tetapi, setidaknya orang tua sedapat mungkin
memenuhi fasilitas yang diperlukan oleh si anak, dan ini tentu saja ditentukan
dengan kondisi ekonomi yang ada.
Selain dari hal tersebut di
atas orang tua semestinya juga dapat diajak untuk bekerja sama dalam
mendapatkan dan memperoleh inovasi sistem belajar mereka yang efisien dan
efektif, sehingga anak tetap terkoordinir sebagaimana mestinya.
C. Latar Belakang Terjadinya Anak Putus
Sekolah
Hampir di setiap tempat banyak
anak-anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan. Pendidikan putus di tengah
jalan disebabkan karena berbagai kondisi yang terjadi dalam kehidupan, salah
satunya disebabkan oleh kondisi ekonomi orang tua yang memprihatinkan. Disadari
bahwa kondisi ekonomi seperti ini menjadi penghambat bagi seseorang untuk
memenuhi keinginannya dalam melanjutkan pendidikan dan menyelesaikan. Kondisi
ekonomi seperti ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya orang tua tidak
mempunyai pekerjaan tetap, tidak mempunyai keterampilan khusus, keterbatasan
kemampuan dan faktor lainnya.[23]
Pada perspektif lain, kondisi
ekonomi masyarakat tentu saja berbeda, tidak semua keluarga memiliki kemampuan
ekonomi yang memadai dan mampu memenuhi segala kebutuhan anggota keluarga.
Salah satu pengaruh yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi seperti ini adalah
orang tua tidak sanggup menyekolahkan anaknya pada jenjang yang lebih tinggi
walaupun mereka mampu membiayainya di tingkat sekolah dasar.
Ada beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya anak putus sekolah (drop out) antara lain adalah:
1. Keadaan Kehidupan Keluarga
Kita ketahui bahwa pendidikan
itu tidak hanya berlangsung di sekolah (pendidikan formal), akan tetapi dapat
juga berlangsung di dalam keluarga (pendidikan informal). Keluarga sangat
menentukan berhasil tidaknya anak dalam pendidikan, karena pendidikan yang
pertama dan utama diterima oleh anak adalah di dalam keluarga. Begitu anak
dilahirkan ke dunia masih dalam keadaan yang sangat lemah dan tidak berdaya,
pada saat ini sangat membutuhkan bantuan terutama dari kedua orang tua dan
anggota keluarga yang lainnya sampai anak menjadi dewasa. Di sinilah anak
memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman, baik yang berupa susah,
gembira dan kebiasaan-kebiasaan lain, seperti larangan, celaan, pujian dan juga
sikap kepemimpinan orang tuanya, kesemuanya ini ikut mempengaruhi jiwa anak,
baik secara langsung ataupun tidak langsung.[24]
Jika orang tua selalu
menunjukkan sikap keras terhadap anak-anaknya, maka anak akan menjadi bimbangan
atau ragu-raguan di dalam dirinya, sehingga bagi mereka merupakan malapetaka
yang bakal membawanya ke arah kehancuran.
Kehidupan keluarga yang
harmonis dan penuh dengan rasa kasih sayang antara sesama anggota keluarga
dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan, terutama bagi pertumbuhan dan
perkembangan jiwa anak serta sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan
pendidikan anak.
Dalam hal ini Winarno
Surachmad mengemukakan sebagai berikut:
Keluarga merupakan lingkungan yang pertama yang
memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, keluarga besar atau kecil,
keluarga miskin atau berada. Situasi keluarga tenang, damai gembira atau
keluarga yang sering cekcok, bersikap keras, ini akan mewarnai sikap anak,
jumlah orang yang tinggal di dalam keluarga tersebut, nenek, paman, bibi, ini
juga turut mempengaruhi perkembangan anak, pengaruh baik tetapi juga buruk dapat
dipelajari anak dalam keluarga.[25]
Dari kutipan di atas dapat
diketahui bahwa keadaan sebuah rumah tangga sangat besar pengaruhnya terhadap
proses pendidikan anak, karena di dalam keluargalah anak menerima kesan-kesan
yang merupakan pengalaman pertama setelah seorang anak dilahirkan. Kalau di
dalam rumah tangga sering terjadi pertengkaran antara ibu dan ayah, maka ini
akan berakibat pada mentalnya si anak dan akan mengakibatkan keminderannya
dalam pergaulan, sehingga anak akan malas pergi ke sekolah bahkan bisa
mengakibatkan anak meninggalkan bangku sekolahnya.
Dalam pendidikan agama,
peranan keluarga, terutama ibu adalah sangat dominan. Dalam pepatah Arab
disebutkan:
Seorang ibu adalah sekolah
yang besar dan utama.[26]
Dari pepatah di atas dapat
disimpulkan bahwa ibulah fondasi utama dalam pendidikan anak. Jika ibu berhasil
dalam mendidik dan mengasuh anak, berarti dia telah berhasil menciptakan bangsa
yang baik.
Dari sinilah keluarga sangat
menentukan pendidikan yang akan menentukan corak kehidupan anak. Selanjutnya juga
tingkat pendidikan orang tua ikut mempengaruhinya. Hal ini seperti sering kita
lihat keluarga yang mampu ekonominya dan tidak mempunyai pendidikan, belum
tentu bisa berhasil dalam masalah pendidikan bagi anak-anaknya. Sebaliknya
keadaan keluarga yang ekonominya kurang tetapi banyaknya pengetahuan yang
dimiliki maka sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak dalam bidang
pendidikan.
Kemudian dari pada itu
kehidupan seorang anak dalam keluarga sangat mendambakan kasih sayang dari
kedua orang tuanya. Disini orang tua dituntut sangat hati-hati dalam memberikan
kasih sayang kepada anak-anaknya, agar tidak terlalu dimanjakan.
Dalam hal ini St. Vembriarto
mengemukakan bahwa:
Anak yang dimanjakan sering berwatak tidak patuh,
tidak dapat menahan emosinya dan menuntut orang lain secara berlebih-lebihan.
Faktor manja dibiasakan dengan hal yang sifatnya tidak mendidik dengan
kekhawatiran orang tua terhadap anak yang berlebihan, akan mengantarkan anak
tidak suka pergi sekolah.[27]
Berdasarkan kutipan di atas
dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan kasih sayang kepada anak tidak perlu
berlebih-lebihan, karena hal itu dapat menghilangkan rasa tanggung jawab yang
ada pada diri anak dan memungkinkan si anak dapat menunjukkan sikap-sikap dan
cara bertingkah laku yang tidak baik.
Apabila seorang anak yang
mendapat kasih sayang secara berlebih-lebihan dari keluarganya, maka dalam
tindakan mereka sering menuruti kata hatinya sendiri (menurut kehendaknya).
Dengan demikian setiap perbuatan yang mereka lakukan kebanyakan cenderung ke
arah yang tidak baik, yang dapat menjadikan dirinya sebagai penjahat, pemalas
dan sebagainya. Hal ini dapat mengakibatkan anak putus sekolah serta
terbengkalai pendidikannya karena terlalu lalai dengan uang.
2. Keadaan Ekonomi Orang Tua
Lemahnya keadaan ekonomi orang
adalah salah satu penyebab terjadinya anak putus sekolah. Apabila keadaan
ekonomi orang tua kurang mampu, maka kebutuhan anak dalam bidang pendidikan
tidak dapat terpenuhi dengan baik. Sebaliknya kebutuhan yang cukup bagi anak
hanyalah didasarkan kepada kemampuan ekonomi dari orang tuanya, yang dapat
terpenuhinya segala keperluan kepentingan anak terutama dalam bidang
pendidikan.
Sayyidina Ali Kw. berkata yang
artinya: “Dalam menuntut ilmu ada tiga Al yang harus diperhatikan: 1) Panjang
masa dalam menuntut ilmu, 2) Ekonomi yang mendukung, 3) Ada keinginan. Ketiga
hal tersebut adalah sejalan”.[28]
Dari perkataan Sayyidina Ali
Kw di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, dalam menuntut ilmu masa harus
panjang (bukan cuma sebentar dalam menuntut ilmu), kemudian ada keinginan dari
peserta didik, supaya dalam dia menuntut ilmu tidak lalai dan tidak mengingat
yang lain selain belajar, serta ekonomi yang mendukung, yaitu dalam menuntut
ilmu tersebut ekonomilah yang menentukan sukses tidaknya pendidikan seseorang
serta tinggi rendahnya pendidikan.
Jelas bahwa kondisi ekonomi
merupakan faktor pendukung yang paling besar untuk kelanjutan pendidikan
anak-anak, sebab pendidikan juga membutuhkan biaya besar. Selanjutnya
Baharuddin M juga mengatakan bahwa: “Nampaknya di negara kita faktor dana
merupakan penghambat utama, untuk mengejar ketinggalan kita dalam dunia
pendidikan. Sudah tidak dapat dipungkiri bahwa tanpa dana yang cukup, tidak
akan dapat diharapkan pendidikan yang sempurna.[29] Jadi, kurangnya biaya
pendidikan, maka akan mengakibatkan pendidikan tertunda.
Bila dilihat dari segi
perkembangan zaman sekarang ini, yaitu biaya pendidikan yang setiap tahun terus
meningkat, kebutuhan pokok masyarakat terus meningkatkan harganya sedangkan
mata pencahariannya semakin merosot, sehingga keadaan kehidupan semakin sulit
dan melarat. Keadaan semacam ini bisa kita lihat secara langsung di negara kita
sendiri Indonesia. Hal seperti ini akan mengakibatkan antara lain: anak tidak
dapat melanjutkan pendidikannya karena terpaksa membantu orang tua dalam
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itulah pendidikan anak
terhambat akibat kesibukan-kesibukannya dalam bekerja.[30]
Hal yang seperti ini sering
terjadi di kalangan keluarga yang kurang mampu dan akibatnya pendidikan anak
terhambat. Dalam hal ini faktor dana dalam dunia pendidikan sangat menentukan. Jika
tanpa adanya dana yang cukup, tidak bisa diharapkan untuk mendapatkan
pendidikan yang sempurna. Hal-hal seperti inilah yang dapat menjadikan seorang
anak menjadi putus.
3. Keadaan Sekolah
Lingkungan sekolah merupakan
suatu situasi yang sangat erat kaitannya dengan anak putus sekolah. Di mana
sekolah itu merupakan suatu lembaga atau tempat anak memperoleh atau menerima
pendidikan dan pengetahuan kepada anak serta berusaha supaya anak dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Di sekolah guru mengajarkan seorang
anak untuk bisa bertanggung jawab baik untuk dirinya sendiri, keluarga dan
masyarakat.
Dalam upaya untuk tercapainya
tujuan pendidikan faktor-faktor sarana dan prasarana sangat di butuhkan,
seperti fasilitas gedung, ruangan serta alat-alat sekolah lainnya.
Baharuddin M, mengemukakan
bahwa:
Apabila faktor sarana ini tidak terpenuhi, maka
banyak murid usia sekolah, maupun
berbagi tingkat pendidikan yang tidak bisa bersekolah, atau tidak bisa
melanjutkan sekolahnya. Bila hal tersebut terjadi berarti “putus sekolah” pun
terciptalah dikarenakan faktor tersebut. Yang vital adalah kurangnya pengadaan
sarana tempat belajar dan pengadaan guru.[31]
Berdasarkan kutipan di atas
dapat disimpulkan bahwa sarana adalah penunjang utama dalam hal pendidikan bagi
anak, tanpa sarana yang memadai, maka pendidikan anak akan terbengkalai. Sedangkan
di negara Republik Indonesia sarana baik gedung sekolah maupun ruangan sekolah
masih adanya kekurangan, jumlah gedung atau ruangan yang ada tidak dapat
menampung seluruh aspek usia sekolah, sehingga masih ada anak yang ada lowongan
untuk sekolah dan akhirnya si anak terpaksa meninggalkan masa sekolahnya.
Selanjutnya di samping kekurangan
masalah sarana dan alat-alat sekolah tersebut di atas, juga masih ada masalah
tenaga pengajar, yaitu kurangnya tenaga guru.
Dalam hal ini Baharuddin M
mengemukakan bahwa:
Apalagi di daerah telah di bangun fasilitas sekolah
(sarana).Lalu guru tidak ada, tentu saja sekolah tadi tidak akan terjadi. Dan
para murid yang akan bersekolah, terpaksa tidak bersekolah. Kalau saja hal ini
terjadi di jenjang lanjutan sekolah, ini berarti mereka disebut sebagai “putus
sekolah sebelum bersekolah, dikarenakan oleh kekurangan tenaga guru tadi”.[32]
Dari kutipan di atas guru
sangat menentukan untuk terhindarinya anak-anak putus sekolah. Di samping perlu
banyaknya jumlah tenaga pengajar juga sangat diperlukan kemampuan dan
sifat-sifat seorang guru yang baik. Guru harus sanggup menciptakan suasana yang
harmonis. Di sekolah para guru dapat memberikan contoh-contoh yang baik dalam
proses pendidikan dan pengajaran pada murid, agar mereka menjadi generasi yang
handal dan utuh, beriman, berpegang teguh kepada agama, membela dan bertanggung
jawab kepada tanah airnya, berwawasan luas, mempunyai kepribadian yang kuat,
senang belajar dan mencintai orang seperti mencintai dirinya sendiri dan
memiliki semangat gotong-royong.
Dalam hal ini, Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa:
Bagi anak
didik, guru adalah contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya,
guru adalah orang yang pertama sesudah orang tua yang mempengaruhi pembinaan
kepribadian anak didik. Apa saja yang dilakukan oleh guru dinilai baik oleh
anak dan sebaliknya apa saja yang tidak baik menurut guru juga tidak baik
menurut anak. Jadi guru memegang tanggung jawab dan peranan yang amat penting
terhadap pendidikan anak dalam rangka pembentukan kepribadiannya menjadi
seorang yang bertakwa dan berintelektual.[33]
Dari pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa guru juga mempunyai peranan sangat penting dalam pendidikan
anak. Jika guru tidak ada maka bisa mengakibatkan anak putus sekolah. Jika
diperhatikan tentang masalah-masalah tersebut, maka akan tampak persoalannya
walaupun masalah itu kelihatannya banyak dan bermacam-macam, tetapi sebenarnya
dapat dikembalikan kepada sebab-sebab yang sedikit saja.
4. Keadaan Masyarakat
Masalah kehidupan anak bukan
saja berlangsung di dalam rumah tangga dan sekolah, tetapi sebahagian besar kehidupannya
berada dalam masyarakat yang lebih luas. Kehidupan dalam masyarakat merupakan
lingkungan yang ketiga bagi anak yang juga salah satu faktor yang sangat besar
pengaruhnya terhadap pendidikan mereka. Karena dalam lingkungan masyarakat
inilah anak menerima bermacam-macam pengalaman baik yang sifatnya positif
maupun yang sifatnya negatif. Hal ini menunjukkan bahwa anak akan memperoleh
pengetahuan dan pengalaman yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain.
A.H. Harahap mengemukakan
bahwa:
Lingkungan masyarakat merupakan faktor yang cukup
kuat dalam mempengaruhi perkembangan anak remaja yang sulit dikontrol
pengaruhnya. Orang tua dan sekolah adalah lembaga yang khusus, mempunyai
anggota tertentu, serta mempunyai tujuan dan tanggung jawab yang pasti dalam
mendidik anak. Berbeda dengan masyarakat, di mana di dalamnya terdapat berbagai
macam kegiatan. Berlaku untuk segala tingkatan umur dan ruang lingkup yang
sangat luas.[34]
Dari kutipan di atas,
masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan anak, karena di lingkungan
masyarakat terdapat berbagai pengaruh. Pengaruh tersebut ada yang positif dan
ada yang negatif. yang ditimbulkan dari lingkungan masyarakat
Keadaan anak sejak ia
dibesarkan di tengah-tengah masyarakat, maka apa saja yang ditemukan di dalamnya
itulah menjadi pedoman yang bakal dicontohinya. Sebagaimana diketahui bahwa
insting pada anak cukup kuat, sehingga anak akan sangat mudah terpengaruh oleh
tindakan-tindakan yang ada di lingkungan di mana ia berada.
Dalam hal ini Singgih
D.Gunarsa dan Ny.Y.Singgih D.Gunarsa mengemukakan bahwa: “Masyarakat sebagai
ruang gerak di mana para remaja dalam pengembangan
diri, menemukan diri dan menetapkan diri, turut berperan dalam memberikan corak
khusus sesuai dengan yang masyarakat”.[35] Namun masyarakat itu sanggup untuk membentuk
anak sebagai seorang pilihan dalam masyarakat.
Jadi kehidupan manusia di
dalam masyarakat adanya hubungan timbal balik dalam mengembangkan, menetapkan
dirinya serta turut berperan dalam memberikan corak yang sesuai dengan
kehidupan masyarakat yang ada di lingkungannya. di sinilah peranan orang tua
sangat diharapkan oleh anak. Sebagai mana yang dikemukakan oleh Sunardi, bahwa:
Dalam pergaulan anak perlu di bekali dan didorong
untuk bergaul dan bermasyarakat. Jika ada hal-hal yang membahayakan diri akibat
pergaulan dengan teman-teman, maka sebagai orang tua kita harus mengadakan
pendekatan dengan memberikan pengertian sebab akibat dari suatu perbuatan,
sehingga anak dapat menganalisa dengan kemampuan daya nalarnya.[36]
Sejalan dengan hal tersebut di
atas, bila orang tua kurang memperhatikan tentang kehidupan anak dalam
masyarakat, maka segala tindak tanduk dan sikap serta perbuatan masyarakat yang
tidak baik dengan mudah akan diterima oleh anak begitu saja. Hal ini disebabkan
karena bentuk-bentuk pergaulan dan perbuatan dari suatu masyarakat dapat
menyebabkan terjadinya hambatan dan tanggapan terhadap pendidikan anak, dan
perkataan dari suatu masyarakat dapat menyebabkan terjadinya hambatan dan
tantangan terhadap pendidikan anak, dengan demikian cepat atau lambatnya hal
tersebut dapat mengakibatkan seorang anak putus sekolahnya.
Dari keterangan di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa terjadinya anak putus sekolah disebabkan oleh beberapa faktor,
antara lain keadaan ekonomi orang tua yang tidak stabil, juga sarana dan
prasarana. Sarana dan prasarana adalah salah satu penunjang bagi anak untuk
melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Kemudian masyarakat
merupakan lingkungan yang ketiga bagi anak yang juga salah satu faktor yang
sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan mereka. Karena dalam lingkungan
masyarakat inilah anak menerima bermacam-macam pengalaman baik yang sifatnya
positif maupun yang sifatnya negatif.
[2]
Sudirman, N.dkk. Ilmu Pendidikan, cet. III (bandung: Remaja Karya, 1989),
hal. 4
[5] Irawati
Istadi, Istimewakan Setiap Anak (Jakarta: Pustaka Inti, 2005), hal 54
[7] Hasan
Langgulung, Azas-Azas… hal. 71
[8] M. Noor
Syam, Pengantar Dasar-Dasar kependidikan, cet. I (Surabaya: Usaha
Nasional, 1980), hal. 2
[11]
Jamaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hal.
202.
[16] M. Sufi Abdullah dan Nurdin Nafie, Dasar-Dasar
Pendidikan (Banda Aceh: FKIP Unsyiah, 1984), hal. 3
[17] Hasan Langgulung, Azas-Azas ..., hal. 4
[18] Zahar Idris, Dasar-Dasar Pendidikan
(Bandung: Angkasa Raya, t.t), hal. 10
[21]
Muhammad Taqi Falsafi, Anak Antara Kekuatan Gen dan Pendidikan (Bogor:
Cahaya, 2003), hal. 83
[23] Abuddin
Nata, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, ed. 1, cet. 1
(Jakarta: Kencana, 2003), hal. 127
[24]
Farmadi, Selamatkan Anak-Anak dari Putusnya Pendidikan (Semarang:
Mujahid Press, 2004), hal. 59
[25] Winarno
Surachmad, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Departemen P dan K,
1977) hal. 31
[26] Manajemen
PT. Arun, Pernik-Pernik…, hal. 130
[27]
Vembriarto, Pendidikan Sosial, Jilid II (Yogyakarta Paramita, 1975),
hal. 85
[28] Tim
Penyusun Peace Education Program, Pendidikan Damai Dalam Perspektif Ulama
Aceh (Banda Aceh: PPD, 2005), hal. 208
[29]
Baharuddin M, Putus Sekolah dan Masalah Penanggulangannya (Jakarta:
Yayasan Kesejahteraan Keluarga Pemuda 66, 1982), hal 320
[30] Abuddin
Nata, Manajemen Pendidikan…, hal. 122
[31] Baharuddin
M, Putus Sekolah…, hal. 320
[32] Baharuddin
M, Putus Sekolah…, hal. 322.
[33] Zakiah Daradjat,
Kepribadian Guru, cet. II (Jakarta: Bulan Bintang, 1980) hal. 18
[34] A.H.
Harahap, Bina Remaja (Medan: Yayasan Bina Pembangunan Indonesia, 1981),
hal. 143
[35] Singgih
D.Gunarsa dan Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Remaja (Jakarta:
Gunung Mulia, 1985), hal. 87
[36] Manajemen
PT. Arun, Pernik-Pernik…, hal. 159
BAB III
ANAK PUTUS SEKOLAH DI DESA KANCU’U
A. Sebab-Sebab Terjadinya Putus Sekolah
Desa Kancu’u merupakan salah
satu Desa yang terdapat dalam
wilayah Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah. Desa Kancu’u terletak di jalur jalan antar provinsi, yang berjarak sepuluh kilometer dari ibukota kecamatan Pamona
Timur ‘Taripa”. Desa Kancu’u termasuk daerah yang beriklim
tropis sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia. Penduduk Desa
Kancu’u umumnya bermata pencaharian
sebagai petani karena mereka dikelilingi
persawahan, hanya relatif kecil yang
menjadi Pegawai Negeri, sedangkan yang lainnya adalah wiraswasta berupa buruh
bangunan dan pedagang.
Pendidikan di Kecamatan Jangka
sudah dapat digolongkan pada penduduk yang sudah mengecap pendidikan formal,
terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah, bahkan ada yang
telah berhasil menamatkan pendidikannya sampai tingkat akademi dan perguruan
tinggi/universitas. Di samping itu masih banyak juga anak-anak di Desa
Kancu’u yang tidak lagi melanjutkan
pendidikan (Putus Sekolah) yang di sebabkan oleh beberapa faktor:
1. Faktor Ekonomi
Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat
di Desa Kancu’u pada umumnya bermata pencaharian
sebagai petani, yang penghasilannya perbulan cukup untuk menghidupi keluarganya
saja, belum lagi untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Menurut salah seorang
tokoh masyarakat desa mengemukakan
bahwa: “masyarakat di sini cukup berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya
sampai ke jenjang yang tinggi, tapi keadaan ekonomi tidak mendukung”.[1]
Dari hasil wawancara di atas
dapat disimpulkan bahwa hampir semua masyarakat berkeinginan untuk
menyekolahkan anaknya ke tingkat yang tertinggi, tapi kondisi ekonomi
masyarakat tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan anaknya.
Faktor ekonomi adalah faktor
utama untuk mendukung pendidikan anak, karena dengan ekonomi yang memadai biaya
pendidikan anak dapat terpenuhi. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan
oleh Kepala Desa Kancu’u bahwa: “faktor ekonomi adalah penunjang
utama dalam hal pendidikan anak, karena tanpa ekonomi yang memadai, maka
pendidikan anak akan terbengkalai, apalagi zaman sekarang ini semua harga
barang bertambah mahal, juga termasuk biaya pendidikan yang makin meningkat,
sehingga tidak mampu di jangkau oleh rakyat biasa, harapan yang pernah
dijanjikan pemerintah nampaknya kurang terwujud”.[2]
Dari hasil wawancara di atas
dapat diketahui bahwa faktor ekonomi adalah faktor utama dalam masalah
pendidikan. Kalau ekonomi lemah maka dengan sendirinya pendidikan sulit untuk
dilaksanakan.
Masyarakat di Desa
Kancu’u sangat antusias untuk
menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang tinggi. Hal ini sebagaimana yang
di kemukakan oleh Kepala desa
bahwa: “Masyarakat di sini sangat
berkeinginan untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi,
tapi karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung, mereka terpaksa harus mengenyampingkan
pendidikan anak-anak mereka”.[3]
Berdasarkan hasil wawancara di
atas dapat disimpulkan bahwa orang tua anak yang putus sekolah di Desa
Kancu’u Kecamatan Pamona
Timur sangat antusias terhadap
pendidikan anak-anak mereka, mereka juga telah berusaha, tapi karena keadaan
ekonomi yang tidak mendukung mereka terpaksa mengesampingkan dulu pendidikan
anak-anak mereka.
2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah salah
satu faktor yang menyebabkan anak putus sekolah, ini berdasarkan apa yang dikemukakan
oleh Bpk……ketua adat setempat, bahwa: “Lingkungan adalah salah satu penunjang pendidikan anak, jika
lingkungannya baik, maka anak tersebut akan baik dan sebaliknya. Si anak yang
bergaul dengan lingkungannya yang tidak baik, maka akan mempengaruhinya juga
untuk melakukan tindakan yang tidak baik, seperti anak bergaul dengan temannya
yang tidak sekolah, maka si anak ini pun akan mengikuti jejak temannya untuk
tidak sekolah, karena larut dalam pergaulan sehari-hari sesama teman sehingga
mengakibatkan anak meninggalkan bangku sekolah”.[4]
Dari hasil wawancara tersebut
dapat disimpulkan bahwa penyebab anak putus sekolah di Kecamatan Jangka salah
satunya adalah karena mereka lalai dan sudah larut dalam pergaulan sesama teman
tanpa memikirkan kepentingan untuk bersekolah.
3. Faktor Keluarga
Faktor keluarga juga merupakan
salah satu faktor yang mengakibatkan si anak putus sekolah. Pernyataan ini di
kemukakan oleh salah seorang tokoh masyarakat desa Meunasah Dua yang mengatakan
bahwa: “keluarga merupakan tempat si anak untuk menumpahkan segala
permasalahannya. Orang tua adalah tempat anak bergantung, jika perhatian orang
tua kurang pada si anak terutama dalam pendidikannya, maka si anak akan bosan
untuk ke sekolah karena berbagai masalah yang dipikirkan oleh si anak, dan
akhirnya mengakibatkan anak putus sekolah”.[5]
Dari hasil wawancara tersebut
dapat diketahui bahwa keluarga khususnya orang tua adalah tempat bergantungnya
anak dalam menyelesaikan masalah, baik dari masalah pribadi sampai masalah
pendidikannya. Dengan demikian keluarga yang ada di Desa Kancu’u tidak mau memotivasi anak-anak
mereka dalam hal pendidikannya atau tidak mau tahu dengan keadaan anak secara
maksimal, maka keadaan yang seperti itu akan menjadi beban pikiran bagi anak
dan anak yang tidak mendapat perhatian dari orang tua akan bosan ke sekolah sehingga
akhirnya akan mengakibatkan putus sekolah.
B. Cara Pembinaan Terhadap Anak Putus Sekolah
Bagi anak yang putus sekolah
harus dibimbing dan dibina secara maksimal baik oleh orang tuanya sendiri
maupun masyarakat tempat anak-anak bergaul sehari-hari. Hal ini seperti yang
dikemukakan oleh kepala desa Meunasah Dua, bahwa: “Pembinaan terhadap anak yang
putus sekolah adalah melalui orang tua, tokoh masyarakat, menyuruh anak
tersebut untuk bergabung dengan anak yang masih sekolah dan sekolah
minggu . Dengan adanya
kegiatan yang dilakukan demikian maka sianak akan terhindari dari perbuatan
yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain”.[6]
Dengan demikian, pembinaan
bagi anak yang putus sekolah dapat dilakukan dengan cara menyuruh anak
bergabung dengan anak yang masih sekolah dan Sekolah minggu. Dengan adanya kegiatan tersebut anak
akan disibukkan dan akan terhindar dari perbuatan yang dapat merugikan dirinya
dan orang lain.
Selanjutnya cara pembinaan
yang harus dilakukan terhadap anak putus sekolah adalah dengan memberikan
nilai-nilai agama, sosial kemasyarakatan kepadanya, hal ini seperti yang
dikemukakan oleh Kepala Desa Kancu’u, bahwa: “Anak putus sekolah yang tidak mendapat perhatian dari orang
tuanya atau masyarakatnya akan mengakibatkan anak menjadi nakal dan pembangkang
baik dalam keluarga maupun masyarakatnya. Hal ini karena mereka tidak mempunyai
pengetahuan dan tidak terdidik tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang baik dan
nilai-nilai agama yang benar. Jadi untuk terhindari dari hal yang demikian itu
maka pada anak yang putus sekolah tersebut harus di berikan serta diajarkan
nilai-nilai agama dan kemasyarakatan yang benar, di sinilah tanggung jawab
orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat seperti kepala desa dalam melakukan
pembinaan terhadap anak yang putus sekolah”.[7]
Dari hasil wawancara tersebut
dapat diketahui bahwa anak putus sekolah biasanya akan tumbuh sebagai anak yang
berperangai jahat. Karena itu kalau anak putus sekolah atau tidak mau sekolah
lagi, maka orang tua atau orang yang mau peduli pendidikan anak, dalam hal ini
adalah tokoh masyarakat, para komite sekolah, serta orang-orang kaya yang mau
membantu, harus mencari penyebabnya mengapa anak tidak mau sekolah. Setelah
diketahui penyebabnya dan tidak mungkin untuk melanjutkannya lagi, maka orang
tua harus mencari solusi lain untuk membentuk pendidikan berdasarkan minat dan
keinginannya. Misalnya dengan membuat kelompok belajar desa. (kalau memungkinkan biayanya).
Berdasarkan hasil wawancara penulis
dengan Tokoh agama desa Kancu’u
juga mengatakan bahwa: “Anak putus sekolah atau anak-anak yang tidak mau
sekolah lagi harus mendapat pendidikan agama, sehingga anak-anak tidak sempat
berpikiran jelek atau takut berbuat jahat karena mengingat akan dosanya”.[8]
Dari hasil wawancara tersebut
dapat dimengerti bahwa sebagai alternatif lain bagi anak putus sekolah adalah
harus mendapat pendidikan agama yang dapat menjadi pengendali dari setiap perbuatannya
dan sebagai penahan dari perbuatan yang menimbulkan kerugian dan dosa. Karena
dengan bekal pendidikan agama yang cukup walaupun tidak dapat menjadi bekal
dalam bekerja tetapi dapat menjadi bekal dalam hidupnya, sehingga dengan bekal
tersebut dapat bekerja dengan benar dan tidak melanggar sepuluh hukum
Tuhan.
Cara pembinaan lain terhadap
anak putus sekolah adalah dengan mencari pekerjaan yang benar serta seimbang
dengan tenaganya dan kemampuannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan
oleh Kepala Desa Kancu’u, bahwa: “Kalau anak tidak sekolah lagi, dari pada
mondar-mandir di kampung atau keluar masuk kebun, orang tua harus mencarikan
pekerjaan yang memungkinkan serta setimpal dengan kemampuan dia, seperti pergi
ke sawah atau berjualan. Setidaknya hal ini dapat mencukupi uang untuk rokoknya
(bagi laki-laki), di samping sebagai tempat mencari kesibukan diri dan dapat
terhindar dari pengaruh pikiran yang menyimpang. Tapi kalau bagi anak perempuan
itu tidak jadi masalah, karena anak perempuan biasanya lebih banyak di rumah
membantu ibunya”.[9]
Dari hasil wawancara tersebut
dapat diketahui bahwa anak putus sekolah harus diberikan pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuannya, pekerjaan apa saja yang penting halal sebagai kesibukannya,
setidaknya akan mencukupi uang jajannya serta dapat menghindari si anak dari
perbuatan jahat serta merugikan orang lain. Berbeda dengan anak perempuan. Anak
perempuan biasanya lebih banyak di rumah membantu ibunya.
Dari beberapa hasil wawancara dengan
masyarakat desa (dalam penelitian ini penulis mengambil kepala Desa dan Tokoh
Masyarakat dan agama) di atas, dapat
disimpulkan bahwa cara pembinaan terhadap anak putus sekolah di antaranya
adalah:
a. Menyuruh anak untuk bergabung dengan anak
yang masih sekolah
b. Menyuruh anak untuk belajar di Kelompok
belajar, minimal yang ada di desanya
c. Memberikan serta mengajarkan nilai-nilai
keagamaan dan sosial kemasyarakatan kepada anak
d. Memberikan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuannya supaya anak disibukkan serta dapat menghindarinya dari pikiran
yang menyimpang.
C. Analisa Data
Data yang telah terkumpul
melalui angket lalu diolah dan dianalisa dari setiap soal angket menurut nomor
urutan masing-masing, kemudian ditafsirkan dan disimpulkan dengan menggunakan
frekuensi dan persentase jawaban besar kecilnya frekuensi.
Untuk mengetahui keadaan anak
putus sekolah dalam Desa Kancu’u dapat kita perhatikan dalam tabel berikut ini.
Tabel. 3.1 Anak Bapak Termasuk Dalam Kelompok Anak
Putus Sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Ya
Tidak
Semuanya tidak sekolah
Sudah tamat semuanya
|
3
2
1
1
|
42.85
28.57
14.29
14.29
|
|
|
Jumlah
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa masih banyak anak masyarakat dalam Kecamatan Jangka yang putus
sekolah yaitu mencapai 42.85 %. Sedangkan yang lainnya masih sekolah dan ada
yang tidak sekolah sama sekali yaitu sebanyak 14.29 % serta sudah tamat
sebanyak 14.29 %. Jadi kalau dilihat dari tabel di atas dapat diketahui bahwa
lebih banyak anak masyarakat yang putus sekolah dalam Kecamatan Jangka.
Selanjutnya untuk mengetahui
jumlah anak yang putus sekolah di Desa Kancu’u Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel. 3.2 Jumlah Anak Putus Sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
5 orang
Di bawah 5 orang
Di atas 5 orang
Rata-rata putus sekolah
|
-
10
25
10
|
-
28.57
42.86
28.57
|
|
|
|
45
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa rata-rata desa mempunyai anak yang putus sekolah, ini
dibuktikan dengan hasil penyebaran angket yang disebarkan kepada 3 desa sebagai
sampel dalam penelitian ini. Sebagian desa terdapat anak yang putus sekolah di
atas 5 (lima) orang (42.86 %), dan di bawah 5 (lima) orang mencapai 28.57 %,
sedangkan yang hampir semuanya putus sekolah di desa dalam Kecamatan mencapai
28.57 %.
Selanjutnya untuk mengetahui
penyebab anak putus sekolah di Desa Kancu’u Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso dapat
dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.3
Penyebab Anak Putus Sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Tidak ada biaya
Pengaruh teman
Tidak ada kemauan
Lemah intelegensinya
|
30
-
5
-
|
85.72
-
14.28
-
|
|
|
|
35
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa kebanyakan anak putus sekolah di Kecamatan Jangka disebabkan
orang tuanya yang tidak mampu membiayai sekolah anaknya. Hal ini memungkinkan
bila ditinjau dai segi pekerjaan dan pendapat orang tua dari hasil tabel
pendapat orang tua anak yang putus sekolah di bawah ini.
Tabel 3.4 Jumlah
Penghasilan Orang Tua Anak Yang Putus Sekolah Perbulan
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
500 ribu/ perbulan
Di atas 500 ribu/ perbulan
1 juta/ perbulan
500 s/d 1 juta/ perbulan
|
6
1
-
-
|
85.72
14.28
-
-
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa kebanyakan penghasilan para orang tua anak yang putus sekolah
rata-rata adalah ± Rp. 500.000. Hal ini disebabkan karena mereka tidak
mempunyai pekerjaan yang tetap. Apalagi kebanyakan orang tua anak yang putus
sekolah ini bermata pencaharian sebagai petani. Yang semata-mata mengharapkan belanja dari hasil
panen di sawah yang kadang kala tidak menentu sehingga terpaksa harus mengutang dulu untuk
belanja hari ini, dan uang yang di dapatkan dari hasil penghasilannya tersebut
terpaksa harus membayar hutang dulu. Keadaan yang demikianlah yang membuat pendidikan
anak di sekolah tidak diperhatikan lagi. Dan akhirnya anak tidak sekolah lagi
karena tidak mampu membiayainya. Apalagi bila orang tua mempunyai tanggungan
yang banyak.
Selanjutnya untuk mengetahui
jumlah tanggungan orang tua anak putus sekolah dapat dilihat dalam tabel
berikut ini.
Tabel 3.5 Jumlah
Tanggungan Orang Tua Anak Putus Sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
1 orang
2 orang
3 orang
Lebih dari 3 orang
|
-
1
-
6
|
-
14.28
-
85.72
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat diketahui
bahwa banyak orang tua yang mempunyai anak putus sekolah adalah dari keluarga
besar yaitu dari keluarga yang mempunyai tanggungan lebih dari 3 orang yang
sekolah. Sehingga orang tua menjadi kewalahan seandainya membiayai anak sekolah
yang lebih dari 3 orang karena kekurangan biaya.
Kalau pendapatan orang tua
tidak tetap serta pas-pasan dan mempunyai tanggungan (nafkah) yang ramai, maka
orang tua sibuk mencukupi kebutuhan pokok lebih dahulu dan mengesampingkan
dalam kebutuhan anak. Sehingga dari sekian banyak anak yang sekolah harus ada
yang berhenti dahulu agar mampu seklolah yang lain, sehingga terjadilah anak
putus sekolah.
Selanjutnya untuk mengetahui
tentang sikap orang tua terhadap anak yang putus sekolah dapat dilihat dalam
tabel berikut.
Tabel 3.6 Sikap
Orang Tua Terhadap Anak Putus Sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Memarahinya
Membiarkan saja
Tidak ada respons apa-apa
Menegur saja
|
-
5
-
2
|
-
71.43
-
28.57
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui kebanyakan dari anak putus sekolah tidak dipedulikan oleh orang
tuanya dan membiarkannya anak tidak sekolah lagi. Sikap orang tua merasa kalau
anak sekolah juga tidak akan membiayainya dengan sempurna, sehingga membiarkan
saja anak tidak sekolah dan mencari pekerjaan sendiri. Namun demikian ada juga
yang menegurnya atau memarahinya, walaupun demikian anak tetap tidak mau
sekolah lagi.
Selanjutnya untuk mengetahui
tidaknya orang tua mengontrol anak belajar di rumah dapat kita lihat dalam
tabel berikut.
Tabel 3.7 Ada
Tidaknya Orang Tua Mengontrol Anak Untuk Belajar Di Rumah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Ada
Tidak
Kadang-kadang
selalu
|
7
-
-
-
|
100
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa anak yang putus sekolah banyak mendapat pengontrolan dari orang
tuanya untuk belajar di rumah. Hal ini dibuktikan melalui penyebaran angket
yang dibagikan kepada masyarakat desa yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Selanjutnya untuk mengetahui
bagaimana cara orang tua mengontrol anak putus sekolah di rumah dapat dilihat
dalam tabel berikut.
Tabel 3.8 Cara
orang Tua Mengontrol Anak Putus Sekolah Di Rumah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Menyuruh anak pergi ke tempat kelompok
belajar
Menyuruh anak belajar dengan temannya yang masih
sekolah
Menyuruh anak belajar sendiri
Tidak menghiraukan
|
5
-
1
1
|
71.43
-
14.28
14.28
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel dapat di ketahui
bahwa kebanyakan orang tua dalam mengontrol anak-anak yang putus sekolah dengan
menyuruh anak belajar, karena dengan adanya masalah belajar akan dapat
menyibukkan dan tidak sempat memikirkan hal-hal yang negatif yang dapat
meresahkan masyarakat. Orang tua menyuruh anaknya yang putus sekolah untuk
pergi ke tempat kelompok belajar desa, dan ada juga yang tidak menghiraukan sama sekali tentang belajar anaknya
yang putus sekolah tersebut. Di samping itu ada juga orang tua yang menyuruh
anak yang tidak sekolah lagi untuk belajar sendiri di rumah sebagai bekal di
hari depannya. Hal ini biasanya dilakukan pada anak perempuan yang banyak di
rumah saja.
Selanjutnya untuk mengetahui
apakah orang tua pernah menyuruh anaknya yang putus sekolah untuk mencari
bekerja dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.9 Orang Tua Sering
Menyuruh Anaknya Yang Putus Sekolah Untuk Bekerja
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Sering sekali
Kadang-kadang
Tidak pernah
Kemauannya sendiri untuk bekerja
|
3
1
1
2
|
42.86
14.28
14.28
28.57
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa kebanyakan anak putus sekolah sering sekali di suruh bekerja
oleh orang tuanya untuk mencari nafkah sebagai tambahan pendapatan keluarga,
ketika melihat anaknya tidak ada kegiatan dan cuma main-main saja. Hal ini
terjadi pada anak-anak yang tidak mampu sekolah itu karena orang tuanya tidak
mampu membiayai sekolah mereka. Di samping itu ada juga kemauan dari diri
sendiri anak yang putus sekolah untuk bekerja untuk tambahan pendapatan
keluarganya, karena melihat orang tuanya sudah tua dan tidak sanggup lagi untuk
bekerja berat.
Kemudian untuk mengetahui
ada-ada tidaknya perhatian orang tua terhadap anak putus sekolah dalam mencari
teman dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 3.10
Perhatian Orang Tua Terhadap Anak Putus Sekolah Dalam Mencari Teman
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Sering
Tidak mau tahu
Kadang-kadang
Tidak pernah
|
1
-
5
1
|
14.28
-
71.43
14.28
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa kebanyakan orang tua anak yang putus sekolah hanya
kadang-kadang saja memperhatikan anaknya yang putus sekolah untuk mencari teman
(71.43%). Hal ini di sebabkan karena orang tua sering tidak berada di rumah
atau dalam masyarakat, orang tua sering meninggalkan rumah dan kampungnya untuk
mencari nafkah. Apalagi bagi orang tua
yang bekerja sebagai Petani sering tidak pulang sampai sehari penuh,
berangkat jam setengah enam pagi dan baru pulang jam lima sore.
Namun demikian, masih ada juga
orang tua yang sempat memperhatikan anaknya setelah tidak sekolah dalam memilih
teman, ketika melihat anaknya banyak bergaul dengan anak-anak yang nakal,
karena ditakutkan nanti anaknya terpengaruh dengan teman-temannya yang nakal, agar terhindar
dari pergaulan yang bebas tersebut orang tua banyak memperhatikan anaknya dalam
memilih teman (14.28%), juga ada yang tidak pernah sama sekali memperhatikan
anaknya yang putus sekolah dalam mencari teman (14.28%).
Selanjutnya untuk mengetahui
sikap masyarakat dalam menghadapi anak putus sekolah dapat dilihat dalam tabel
berikut ini.
Tabel 3.11 Sikap
Masyarakat dalam Menghadapi Anak Putus Sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Acuh saja
Membimbingnya
Biasa saja
Tidak ada respons
|
1
4
2
-
|
14.28
57.14
28.57
-
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa masyarakat membimbing anak putus sekolah untuk tidak berlaku
nakal dan membimbing mereka untuk berdikari dan mandiri. Dan ada juga
masyarakat yang acuh saja terhadap anak putus sekolah. Hal ini memang sudah
biasa terjadi karena masyarakat ada yang menganggap bahwa anak yang putus
sekolah tersebut adalah anak yang nakal.
Kemudian untuk mengetahui
bagaimana peranan masyarakat dalam mengatasi anak putus sekolah dapat dilihat
dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.12
Peranan Masyarakat dalam Mengatasi Anak Putus Sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Memberikan nasihat kepada anak-anak
Menyuruhnya untuk bergabung dengan remaja
Gereja.
Tidak ada sama sekali
Lain-lain
|
5
2
-
-
|
71.43
28.57
-
-
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa masyarakat tidak membiarkan saja anak-anak yang putus sekolah
begitu saja, mereka memberikan nasihat dan semangat bagi anak tersebut,
sehingga mereka tetap bergairah sekalipun mereka tidak lagi sekolah. Dan ada
juga yang menyuruh anak-anak yang putus sekolah tersebut untuk bergabung dengan
remaja Gereja supaya mereka
disibukkan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan sehingga mereka terhindar dari
segala perbuatan yang merusak bagi diri mereka sendiri.
Selanjutnya untuk mengetahui
apakah anak putus sekolah sering membuat keonaran di dalam desa dapat dilihat
dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.13
Apakah Anak Putus Sekolah Sering Membuat Keonaran di dalam Desa
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Sering
Kadang-kadang
Tidak ada
Ada
|
-
15
15
5
|
-
42.86
42.86
14.28
|
|
|
|
35
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa anak yang putus sekolah suka membuat keonaran di dalam desanya
dan hal ini dapat meresahkan masyarakat. Ada juga sebagian anak yang putus
sekolah tidak membuat keonaran, bahkan mereka justru menjadi keamanan di dalam desanya.
Selanjutnya untuk mengetahui
bagaimana sikap sekolah dalam menangani anak putus sekolah dapat dilihat dalam
tabel berikut ini.
Tabel 3.14 Sikap
Sekolah Dalam Mengatasi Anak Putus Sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Menyediakan fasilitas sekolah secukupnya
Memberikan kebebasan dalam hal biaya
Menyediakan jadwal khusus belajar
Tidak ada sama sekali
|
1
5
-
1
|
14.28
71.43
-
14.28
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
ketahui bahwa sekolah juga berperan aktif dalam hal mengatasi anak putus
sekolah yaitu dengan cara meringankan beban biaya serta memberikan beasiswa
bagi anak yang keluarganya tidak mampu ketika melihat banyak di antara anak
yang putus sekolah ada berasal dari keluarga yang tidak mampu (71.43%). Dengan
memberikan kebebasan dalam hal biaya, maka anak yang keluarganya tidak mampu
akan dapat melanjutkan dan meneruskan pendidikannya.
Selanjutnya untuk mengetahui
apakah masyarakat dan sekolah ada bekerja sama dalam hal mengatasi anak putus
sekolah dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.15 Apakah masyarakat
dan Sekolah ada bekerja sama dalam mengatasi anak putus sekolah
|
No
|
Alternatif Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Ada
Kadang-kadang
Tidak ada
Jarang kompromi
|
3
4
-
-
|
42.86
57.14
-
-
|
|
|
|
7
|
100
|
Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa masyarakat dan sekolah dalam hal mengatasi anak putus sekolah
adalah saling bekerja sama dan saling memberikan aspirasi untuk tercegah dan
teratasinya anak putus sekolah. Untuk mencegah dan mengatasi anak putus sekolah
masyarakat (yang diwakili oleh komite sekolah) dan Sekolah membicarakan dalam
sebuah musyawarah sekolah.. Hal ini dibuktikan dengan jawaban dari penyebaran
angket dalam penelitian ini.
D. Usaha-Usaha Untuk Mengatasi Terjadinya
Anak Putus Sekolah
Setiap orang tua pada dasarnya
menghendaki agar anak dapat belajar di sekolah sampai di perguruan tinggi.
Untuk itu dalam mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus adanya berbagai
usaha pencegahannya sejak dini, baik yang dilakukan oleh orang tua, sekolah
(pemerintah) maupun oleh masyarakat. Sehingga anak putus sekolah dapat dibatasi
sekecil mungkin.
Berdasarkan hasil wawancara
penulis dengan salah seorang tokoh masyarakat Desa Punjot, mengemukakan bahwa: “untuk
mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus adanya kesadaran dari orang tua
untuk menyekolahkan anak, dalam hal ini tokoh masyarakat yang disegani
diharapkan bisa menyadarkan orang tua anak akan pentingnya pendidikan bagi masa
depan anak nantinya. Karena orang tua telah mengecap banyak asam garamnya
kehidupan dengan tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan keahlian dalam bekerja.
Oleh karena itu oleh orang tua harus mengusahakan masa depan anak-anak lebih
baik dari pada keadaannya sekarang.
Dengan demikian, dapat di
pahami salah satu usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah adalah dengan
menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan anak demi menjamin masa
depannya dan dapat meneruskan cita-cita orang tuanya. Sebagaimana kita ketahui
bahwa tidak ada orang yang memperoleh jabatan atau pangkat yang tinggi dengan
tanpa adanya pendidikan sebagai modalnya.
Dalam mencegah anak dari putus sekolah orang tua perlu
juga memberikan dorongan (motivasi) kepada anak dalam belajar dan memberikan
bantuan kalau ada kesulitan belajar yang dialami anak. Hal ini pernah di
kemukakan oleh Kepala Desa Kancu’u, yang
mengatakan bahwa: “apabila anak tidak pernah memperoleh dorongan semangat dari
orang tuanya, maka anak akan merasa bosan dalam belajar. Dorongan yang
diberikan orang tua dapat berupa hadiah yang dijanjikan kalau anak dapat
mencapai suatu nilai tertentu. Kemudian apabila anak mengalami kesulitan dalam
mengerjakan pekerjaan rumah, orang tua perlu memberikan bimbingan dan bantuan
dalam mengerjakannya, sehingga anak tidak merasa kesulitan dalam belajar dan
takut ke sekolah karena tidak selesai membuat pekerjaan rumah”.[10]
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa salah
satu usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah adalah dengan adanya
dorongan dan bantuan dari orang tua kepada anak sehingga anak lebih bersemangat
untuk sekolah dan senang mengerjakan pekerjaan rumah karena orang tuanya ikut
membantu mengerjakannya apabila ada yang tidak dapat dikerjakannya.
Untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga perlu
adanya pengawasan dari orang tua terhadap kegiatan dan hasil belajar anak.
Sebagaimana pendapat yang di kemukakan oleh seorang masyarakat Desa Kancu’u, yang
mengatakan bahwa: “Sudah menjadi kebiasaan anak apabila tidak mendapat
pengawasan, ia akan suka melanggar aturan atau kadang-kadang tidak masuk
sekolah. Dan jika sering tidak masuk sekolah maka akan mempengaruhi terhadap
nilai rapornya atau jika anak tidak masuk sekolah akan dihukum oleh guru.
Akibatnya bila anak sering mendapat hukuman akan membuat anak takut dan bisa
jadi tidak mau sekolah lagi”.[11]
Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa untuk
mengatasi terjadinya anak putus sekolah, maka pada anak di sekolah memerlukan
pengawasan dari orang tuanya. Sehingga anak tidak mempunyai kesempatan untuk tidak
ke sekolah dan bermain-main dengan teman-temannya yang tidak sekolah.
Pengawasan dapat juga dilakukan oleh orang tua di rumah dengan memeriksa hasil
kegiatan belajar anak pada hari itu, apabila tidak ada kegiatan yang ditulis
berarti anak tidak masuk sekolah. Pergi ke sekolah hanya sekedar hilang dari
rumahnya atau takut dimarahi orang tuanya. Dalam hal ini orang tua juga seharusnya
memperhatikan keadaan teman-teman bermain anak jangan sampai dipengaruhi oleh
temannya untuk tidak masuk sekolah.
Usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga
dapat dilakukan dengan cara tidak membiarkan anak untuk bekerja mencari uang
sendiri, karena hal ini dapat melalaikan anak untuk sekolah. Hal ini
sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang tokoh masyarakat Desa Kancu’u adalah: “Untuk menghindari anak malas sekolah
atau putus sekolah maka orang tua jangan membiarkan anak untuk bekerja atau
cari uang sendiri pada umur sekolah. Karena dengan banyak uang sendiri anak
akan lupa belajar bahkan malas sekolah dan akhirnya tidak mau sekolah lagi. Dan
anak menganggap sekolah itu tidak pernah memberikan uang atau sekolah tidak
pernah menjanjikan pekerjaan setelah tamat belajar. Apabila anak punya uang
bisa jadi orang tuanya sudah kurang berharga di matanya. Karena apabila diusir
d ari rumah ia sudah bisa cari makan sendiri”.[12]
Dari hasil wawancara tersebut dapat dipahami bahwa dengan
membiarkan anak mencari uang sendiri dalam waktu belajar dapat membuat anak
harus memilih mana yang lebih mudah dan lebih enak untuk masa sekarang. Yaitu
lebih mementingkan uang dari pada sekolah sehingga lebih cenderung meninggalkan
bangku sekolah. Untuk menghindari hal itu orang tua perlu mengatasinya dengan
tidak membiarkan anak bekerja pada usia belajar. Pada saat itulah orang tua
harus berusaha dengan sekuat tenaganya untuk membiayai sekolah anak dan tidak
mempekerjakan anak di waktu sekolah.
Di sisi lain apabila anak sering dimanjakan dan terlalu
banyak diberikan uang jajan di sekolah juga dapat mengakibatkan anak malas
belajar. Bahkan sering tidak masuk sekolah dan pergi bermain bersama
teman-temannya, apalagi anak yang mempunyai motor dan mempunyai uang banyak ia
bebas pergi ke mana saja. Hal ini pernah di kemukakan oleh Kepala Desa Kancu’u, bahwa: “Anak putus sekolah bukan terjadi pada keluarga miskin yang tidak
mampu membiayai pendidikan anaknya, tetapi putus sekolah juga bisa terjadi pada
anak keluarga kaya yang sering dimanjakan dan terlalu banyak diberikan uang
jajan”.[13]
Dari hasil wawancara tersebut dapat dipahami bahwa
memberikan uang jajan yang berlebihan juga dapat mengakibatkan anak putus sekolah.
Di samping itu orang tua juga harus memberikan uang jajan yang cukup pada
anaknya supaya si anak bergairah dalam belajar di sekolah.
Dari berbagai hasil wawancara di atas dapat di simpulkan
bahwa usaha-usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah di antaranya
dapat di tempuh dengan cara:
1. Membangkitkan kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan anak
2. Memberikan dorongan dan bantuan kepada anak dalam belajar
3. Mengadakan pengawasan terhadap di rumah serta memberikan motivasi kepada
anak sehingga anak rajin dalam belajar dan tidak membuat si anak bosan dalam
mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan di sekolah.
4. Tidak membiarkan anak bekerja mencari uang dalam masa belajar.
5. Tidak memanjakan anak dengan memberikan uang jajan yang terlalu banyak.
E.
Pembuktian Terhadap Hipotesa
Dalam pembahasan ini penulis
akan melihat kembali hipotesis yang penulis susun pada bab satu. Di sini
penulis akan menguji kebenaran dari hipotesis tersebut.
Hipotesa
pertama adalah: “Kebanyakan anak putus sekolah di Desa Kancu’u disebabkan oleh kurangnya biaya dan
kesadaran orang tua dalam menyekolahkan anaknya”.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kebanyakan anak putus sekolah di Desa Kancu’u Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso di sebabkan oleh kurangnya biaya, ini berdasarkan
jawaban dari para responden yaitu 85.72 % (Lihat Tabel 3.4), dan pendapatan
orang tua mereka tidak mencukupi untuk belanja sehari-hari yang rata-rata
perbulannya sebanyak Rp. 500.000 (Lihat Tabel 3.5). Hipotesa ini bisa diterima
kebenarannya.
Hipotesa
kedua: “Anak putus sekolah di Desa Kancu’u berdampak
negatif dalam masyarakat”.
Hipotesa ini adalah tidak
semuanya benar karena ada sebagian anak yang putus sekolah di Desa
Kancu’u Kecamatan Pamona
timur Kabupaten Poso tidak membuat keonaran yang meresahkan
masyarakat di dalam desanya, hal ini berdasarkan hasil penelitian dari
responden yang menjawab 42.86 % (Lihat Tabel 3. 13), dan ada juga anak yang
putus sekolah di Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen yang suka membuat keonaran
yang meresahkan masyarakat desanya, hal ini berdasarkan hasil penelitian dari
responden yang menjawab 42.86 % (Lihat Tabel 3. 13). Jadi hipotesa ini bisa di
terima kebenarannya setengah dan setengah lagi tidak bisa di terima
kebenarannya.
Hipotesa
ketiga: “Cara pembinaan terhadap anak putus sekolah di Desa Kancu’u belum optimal”.
Berdasarkan hasil penelitian,
masyarakat telah berusaha semampu mungkin untuk mengatasi anak yang putus
sekolah di Desa Kancu’u serta
membinanya dengan cara membimbing serta menyuruhnya untuk bergabung dengan
remaja mesjid, hal ini berdasarkan jawaban dari responden 71.43 (Lihat Tabel 3.
12). Jadi hipotesa ini tidak bisa di terima kebenarannya.
[2] Hasil wawancara dengan ……… (Kepala Desa Kancu’u), Pada tanggal ………..
[8] Hasil
wawancara dengan Ibu.Ratulangi-……. (Tokoh agama) desa Kancu’u pada tanggal
……………
[9] Hasil
wawancara dengan ………… (Kepala Desa Kancu’u), pada tanggal ……………..
[11] Hasil
wawancara dengan Bapak ………. masyarakat desa Kancu’u pada tanggal ……………….
[12] Hasil
wawancara dengan Bapak Ratulangi (Tokoh Masyarakat) Desa Kancu’u, pada tanggal
…………………
[13] Hasil
wawancara dengan ……….. (Kepala Desa Kancu’u), pada tanggal ……………
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dalam
bab-bab sebelumnya, maka dalam bab terakhir ini ada beberapa kesimpulan tentang
anak putus sekolah di Desa Kancu’u Kecamatan Pamona Timur
Kabupaten Poso (faktor
penyebab dan solusinya). Adapun kesimpulan tersebut adalah :
1.
Pendidikan
adalah suatu usaha mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak agar
berhasil guna dan berdaya guna baik bagi dirinya maupun untuk masyarakatnya.
2.
Orang
tua adalah orang pertama yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak,
yang mana baik buruknya sikap anak di kemudian hari akan dikaitkan dengan
berhasil tidaknya orang tua dalam mendidik anak.
3.
Beberapa
faktor penyebab anak di Desa Kancu’u putus sekolah, secara umum masalah utamanya adalah kondisi ekonomi keluarga
yang sangat kekurangan, karena kebanyakan masyarakat di Desa Kancu’u berekonomi lemah, berpenghasilan
pas-pasan sehingga tidak mampu membiayai pendidikan anaknya sehingga si anak
terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah.
4.
Dalam
mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus adanya kesadaran dari orang tua
anak akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak, orang tua harus
memberikan dorongan (rangsangan) bagi anak untuk belajar.
5.
Orang
tua tidak membiarkan anak mencari kesibukan lain dalam waktu belajar yang dapat
membuka jalan bagi anak untuk meninggalkan bangku sekolah.
6.
Cara
pembinaan bagi anak yang putus sekolah khususnya di Desa Kancu’u adalah dengan cara memberikan pengertian
akan nilai-nilai agama dan sosial kemasyarakatan, kepada anak-anak yang putus
sekolah baik oleh orang tua maupun oleh tokoh masyarakat setempat.
7.
Memberikan
kesibukan pada anak sehingga anak terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan
orang lain serta menjauhkan anak dari pikiran yang menyimpang.
B. Saran-Saran
Pada bagian ini penulis ingin
menyampaikan beberapa saran yang berkaitan dengan judul pembahasan ini yaitu:
1.
Permasalahan
putus sekolah hampir terjadi di setiap lembaga dan jenjang pendidikan, oleh
karena itu semua lembaga dan jenjang pendidikan harus mampu meningkatkan pelayanan
pendidikan dalam upaya menanggulangi tingkat anak yang drop out dari sekolah.
2.
Keluarga
terutama orang tua berkewajiban mencerdaskan anak-anak mereka melalui
pendidikan, maka orang tua harus mempunyai tekad yang kuat dan semangat yang
besar untuk menyekolahkan anak-anak mereka, jangan menjadikan kondisi ekonomi
lemah terus dijadikan alasan anak putus
sekolah.
3.
Orang
tua hendaknya memberikan nasihat-nasihat kepada anak agar giat belajar, karena
dengan pendidikannya nanti bisa mencapai masa depan yang cerah.
4.
Tiga
wadah pendidikan, keluarga, sekolah dan masyarakat harus meningkatkan kerja
sama dalam rangka membenahi berbagai permasalahan pendidikan, termasuk masalah
putus sekolah.
5.
Di
harapkan kepada masyarakat yang mampu, untuk memperhatikan nasib pendidikan
anak orang yang tidak mampu dan berusaha membantu pendidikannya jangan sampai
putus sekolah.
6.
kepada
pemerintah diharapkan agar dapat memberikan beasiswa kepada anak-anak yang
kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikannya.
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Keputusan Dekan Fakultas ………………….UNKRIT
Tentang Pembimbing
2. Surat Izin Penelitian dari Dekan Fakultas ……………UNKRIT.
3. Surat Keterangan telah mengadakan penelitian
dari Kepala Desa Kancu’u
4. Daftar Wawancara Penelitian
5. Daftar Angket Penelitian
6. Daftar Riwayat Hidup Penulis
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ali Imran, Kebijakan Pendidikan di Indonesia, Cet. II Jakarta: Bumi
Aksara, 2002
A.H. Harahap, Bina
Remaja, Medan: Yayasan Bina Pembangunan Indonesia, 1981
Baharuddin M, Putus
Sekolah dan Masalah Penanggulangannya, Jakarta: Yayasan Kesejahteraan
Keluarga Pemuda 66, 1982
_________, Selamatkan
Anak-Anak dari Putusnya Pendidikan, Semarang: Mujahid Press, 2004
Ibnu Sina, Majalah Santunan, no 24, Tahun ke IV 1978
Irawati Istadi, Istimewakan
Setiap Anak, Jakarta: Pustaka Inti, 2005
Jamaluddin, Psikologi
Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995
Kartini Kartono, Pengantar Metodelogi Research Sosial, Bandung:
Grafika, 1974
M. Noor Syam, Pengantar
Dasar-Dasar kependidikan, cet. I, Surabaya: Usaha Nasional, 1980
M. Sufi Abdullah dan Nurdin Nafie, Dasar-Dasar Pendidikan, Banda
Aceh: FKIP Unsyiah, 1984
M. Arief, Menggali Manusia Melalui Proses Pendidikan,
Dinamika, No. 12, 1998
Muhammad Athiyah
Al-Abrasyi, Psikolgi Pendidikan Anak, Bandung: Angkasa Raya, 1992
Muhammad Taqi Falsafi, Anak
Antara Kekuatan Gen dan Pendidikan, Bogor: Cahaya, 2003
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 1996
Safri, Peran Orang Tua
Dalam Pembinaan Mental Anak, Santunan, No. 237, April 1998
Sudirman, N.dkk. Ilmu
Pendidikan, cet. III, Bandung:
Remaja Karya, 1989
Singgih D.Gunarsa dan Ny.
Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Remaja, Jakarta: Gunung Mulia, 1985
Sutrisno hadi, Metodelogi
Research, Jilid I, cet V, Yogyakarta: UGM, 1996
Vembriarto, Pendidikan
Sosial, Jilid II, Yogyakarta Paramita, 1975
Winarno Surachmad, Dasar-dasar
Ilmu Pendidikan, Jakarta: Departemen P dan K, 1977
Winarno Surachman, Dasar dan Tehnik Research Pengantar Metodelogi
Ilmiyah, Bandung: Tarsito, 1982
WJS Pooerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. II, Jakarta:
Balai Pustaka, 1985
Yang Kassin, Kamus Bahasa Malaysia Baru, tahun 1996
Zahar Idris, Dasar-Dasar Pendidikan, Bandung: Angkasa Raya, t.t.
Zakiah Daradjat, Pendidikan Rumah Tangga Dalam Pembinaan Mental,
Jakarta: Bulan Bintang, 1975
______________, Kepribadian
Guru, cet. II, Jakarta: Bulan Bintang, 1980
1.
Nama Lengkap :
2.
Tempat/Tanggal Lahir :
3.
Jenis Kelamin :
Perempuan
4.
Agama :
Kristen
5.
Kebangsaan/Suku :
Indonesia/Pamona
6.
Status :
Belum kawin
7.
Pekerjaan :
Mahasiswi
8.
Nama Orang Tua :
- Ayah :
- Pekerjaan :
- Ibu :
- Pekerjaan : IRT
- Alamat : Desa Kancu’u Kecamatan
Kabupaten Poso
9.
Riwayat Pendidikan :
- SD ….., Tamat Tahun
- SMP
- ……………, Masuk ……. s/d Sekarang
Tentena, Juli 2012
Penulis,
Inang Ratulangi
DITERIMA
DAN DISETUJUI OLEH PEMBIMBING UNTUK DIAJUKAN
KEPADA
PANITIA UJIAN SARJANA PENDIDIKAN
JURUSAN
PENDIDIKANAGAMA KRISTEN
FAKULTAS
KEGURUAN
UNIVERSITAS
KRISTEN TENTENA
Menyetujui:
Ketua Jurusan Pendidikan
Agama Kristen
Pdt.S.Tolage.M.Teol
TIM PEMBIMBING
Pembimbing I Pembimbing II
Pdt.S.Palenewen.M.Teol
Pdt.A.Gintu.MTh.
Motto :
v Serahkanlah
perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah rencanamu. (Amsal 16 : 3)
v Sebab di dalam dialah tersembunyi segala harta nikmat
dan pengetahuan (Kolose 2 : 3)
v Karena masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak
akan hilang (Amsal 23 : 18)
v Do
the best for the best (melakukan yang terbaik untuk hasil yang terbaik)
Persembahan :
v
Tuhan Yesus Kristus sebagai
sumber hikmat dan pengetahuan yang senantiasa memberkati kehidupanku, menolong
aku di saat kesusahan, melindungi dan menuntun setiap rencana dan kerja.
v Papa
dan Mama yang sudah mengasuh,
mendidik dengan kasih sayang dan membiayai sekolahku serta yang selalu
mendoakan untuk keberhasilanku
v Pamanku(Liong
Bonggili).
v Almamater
UNKRIT khususnya Jurusan Pendidikan Dasar
PENGHARGAAN
DAN UCAPAN TERIMA KASIH
Puji
dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan sang pencipta, karena
penulis menyadari bahwa terselesainya
skripsi ini bukan karena kemampuan dan kekuatan penulis sendiri,
melainkan bentuk kasih karunia penyertaan Tuhan yang telah dianugerahkan dalam
kehidupan penulis.
Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada dosen Penasehat Akademik …………………………….dan dosen
Pembimbing II Ibu Pdt.A.Gintu.MTh yang
sudah memberi bantuan baik itu dalam bentuk pendapat, saran, motivasi,
semangat, serta doa, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang tepat
waktu. Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sedalam-dalamnya kepada :
1. Rektor UNKRIT , serta pembantu rektor I, II, III, IV, V.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Kristen
Pdt.S.Tolage,M.Teol.
3.
Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama Kristen
4.
Ketua Program Studi ......................................
5.
Seluruh Staf Dosen dan Asisten Dosen Pendidikan Agama
Kristen yang telah mengajar dan membimbing dalam mata-mata kuliah.
6.
Pegawai Tata Usaha UNKRIT yang ada dikantor pusat
Tentena.
7. Pengawas asrama ………….. Tentena.
(……………………………………………….)
8.
Almamaterku FK UNKRIT
Jurusan PAK di Tentena tempat aku menuntut ilmu.
9.
Kepala Desa
Kancu’u dan ketua adat serta tokoh masyarakat.
10.
Buat semua
keluargaku yang ada diKancu’u,Tentena dan Manado yang selalu memberikan
dukungan dan doa dalam melanjutkan studiku.
11.
Adik-adikku (……………….) tersayang yang senantiasa menantikan keberhasilan
studiku.
12.
Teman-teman seperjuangan proyek berasrama angkatan ke
II input SMA yang selalu menemaniku selama menempuh studi.
13.
Pamanku (Liong Bonggili) yang selalu membantu memberi
motivasi serta semangat dalam studiku.
14.
Teman-teman
Bilik asrama putri ……………yang selalu memberikan semangat dan dukungan.
15.
Sanak keluarga
dan sahabat yang tidak dapat disebutkan satu persatu
Tidak ada sesuatu yang bisa
diberikan penulis sebagai balas jasa, hanya doa semoga Tuhan Yang Maha Kuasa akan selalu
mengaruniakan berkat dan anugerah-Nya pada kita semua dalam menjalankan tugas
masing-masing.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini
masih terdapat kekurangan dan kesalahan,untuk itu penulis memohon saran dan
kritikan yang konstruktif demi penyempurnaan penelitian ini,sehingga dapat
bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca karya ini.
Tentena, Juni 2012
Penulis
INANG RATULANGI
NIM:08111029
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur patut dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
perkenaannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Skripsi ini di buat selain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan juga untuk
memenuhi prasyarat untuk gelar sarjan pendidikan.
Skripsi
ini berjudul : “Anak Putus Sekolah dan cara pembinaannya”.Skripsi ini terdiri atas Empat bab, dan secara umum
isi setiap bab dapat dideskripsikan sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan
masalah,tujuan penelitian, dan manfaat penelitian
BAB II : Pendidikan bagi anak yang mengupas pentingnya
pendidikan bagi anak.
BAB III :Sebab-sebab
terjadinya anak putus sekolah dan kiat-kiat
penanggulangannya..
BAB IV : Penutup
DAFTAR
ISI
TANDA PERSETUJUAN…………………………………………………….. i
ABSTRAK…………………………………………………………………….. ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN…………………………………………….. iii
PENGHARGAAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH……………………..... iv
KATA PENGANTAR…………………………………………………………. vi
DAFTAR ISI
...................................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………... 1
B. Penjelasan Istilah…………………………………………………….. 3
C. Tujuan Penelitian……………………………………………………... 5
D. Postulat dan Hipotesis…………………………………………………. 6
E. Populasi dan Sampel………………………………………………….7
F. Metodelogi Penelitian………………………………………………...8
BAB II KAJIAN TEORI
1. Pentingnya pendidikan bagi anak…………………………………..10
2. Peranan Orang tua terhadap Pendidikan……………………………19
3. Latar belakang terjadinya anak putus
sekolah………………………31
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pembahasan…………………………………………………………42
B. Subjek penelitian……………………………………………………46
C. Analisis Data………………………………………………………..49
D. Teknik penelitian……………………………………………………54
A. Hasil penelitian………………………………………………………69
BAB
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………….
B. Saran………………………………………………………………
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………....
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Foto
penelitian
Rencana
pelaksanaan pembelajaran(RPP Siklus I)
Instrument
penelitian(siklus I)
Rencana
pelaksanaan pembelajaran(RPP SIKLUS II)
Instrument
penelitian(siklus II)
SK
pembimbing skripsi
Surat
izin penelitian
Surat
keterangan Desa
Identitas
penyusun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar